| Presiden Turki: Hubungan Turki-Israel Tidak Akan Sama Seperti Dulu Lagi |
Jumat, 04/06/2010 08:38 WIB
Para pelayat meneriakkan slogan anti-Israel sambil membawa peti mati delapan warga Turks dan satu orang Amerika yang tewas dalam serangan Israel Senin lalu. Angkatan Laut Israel menyerang armada kebebasan, yang sedang membawa 10.000 ton makanan dan obat-obatan ke Jalur Gaza, di perairan internasional lebih dari 150 km (90 mil) di lepas pantai Gaza. Presiden Turki Abdullah Gul mengatakan setelah insiden tragis hubungan Turki-Israel "tidak akan pernah sama lagi." "Turki tidak akan pernah melupakan serangan terhadap kapal dan orang-orangnya di perairan internasional dan hubungan Turki dengan Israel tidak akan pernah menjadi sama seperti dulu lagi," kata Gul. "Israel melakukan salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah. Israel akan melihat dalam berjalannya waktu apa kesalahan besar yang telah mereka buat," katanya. Pembantaian terhadap aktivis kemanusia mendorong masyarakat internasional untuk mengutuk serangan brutal Israel yang tidak manusiawi itu. Petugas medis mengatakan mereka telah menemukan bekas tembakan peluru di semua badan korban, warga Amerika bernama Furkan Dogan, ditembak tepat dikepalanya. Dia memiliki empat luka tembak di kepala dan satu di dada, menurut petugas medis. Israel mengklaim aktivis bantuan itu bersenjata dan menyerang pasukan sewaktu psukan Israel mencoba merebut kapal. Namun aktivis yang selamat, menolak klaim Israel dengan mengatakan bahwa pasukan Israel mulai menembak segera setelah mereka diturunkan dari helikopter. "Sudah jelas dari gaya mereka naik ke kapal tujuannya tidak hanya menghentikan kapal berlayar, tetapi untuk sebanyak mungkin menyebabkan kematian bagi para aktivis agar menghentikan inisiatif seperti itu di masa mendatang," kata anggota parlemen Israel Haneen Zuabi , yang ikut serta dalam perjalanan dengan konvoi bantuan.(fq/prtv) www.eramuslim.com |

Ribuan orang menghadiri prosesi pemakaman massal di Istanbul untuk memperingati para korban serangan Israel di armada Kebasan Gaza.