Oase
| KIAT HIDUP BAHAGIA 2 |
|
2. Berperilaku Baik Melalui Ucapan, Perbuatan Dan Segala Bentuk Al-Ma'ruf. Diantara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah: Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma'ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain. Lantaran keba jikan itu dan sesuai dengan kadar kebajikan itu jua, Alloh subhanahu wa ta'ala menangkis segala kegundahan dan kesedihan, baik untuk orang yang berprilaku baik atau untuk orang yang jahat.
Hanya saja, yang diperoleh orang mu'min lebih sempurna. Ia unggul karena kebaikannya timbul dari keikhlasan dan keberharapan hanya pada pahala Alloh subhanahu wa ta'ala. Karena ia mengharapkan yang baik, maka Alloh memudahkan baginya berprilaku baik. Dan, karena ikhlas dan hanya mengaharap pahala dari Alloh subhanahu wa ta'ala, maka Alloh menangkis untuknya segala cobaan berat. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman: { لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا } Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan antara mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau melakukan kebajikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Alloh, maka kelak Kami mengaruniakan kepadanya pahala yang besar. [An-Nisaa : 114] Alloh subhanahu wa ta'ala menerangkan, bahwa itu semua adalah suatu kebaikan yang timbul dari pelakunya. Sedangkan suatu kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan menangkis keburukan. Dan bahwasanya orang mu'min yang hanya berharap pahala Alloh akan dianugrahi olehNya pahala yang agung. Termasuk pahala agung itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati dan semacamnya. 3. Menyibukkan Diri Dengan Melakukan Suatu Pekerjaan Atau Mengkaji Suatu Ilmu Yang Bermanfaat Diantara sarana untuk menangkis kegelisahan yang ditimbulkan oleh ketegangan saraf dan kekalutan hati karena beberapa hal yang mengeruhkan pikiran adalah : Menyibukkan diri dengan melakukan suatu perkejaan atau mengkaji suatu ilmu yang bermanfaat. Hal ini dapat membuat hati melupakan kekalutan dengan melupakan hal-hal yang mengguncangkannya itu. Bisa jadi ia, karenanya, dapat melupakan beberapa penyebab yang telah membuatnya gundah dan sedih. Dengan demikian jiwanya senang dan kesemangatannya tumbuh dan bertambah. Sarana ini pun bagi mu'min dan selain mu'min adalah sama. Hanya saja, orang mum'min berbeda dan unggul karena iman, keikhlasan dan keberharapannya kepada pahala Ilahi melalui ilmu yang dipela jari dan diajarkannya dan melalui perbuatan baik yang dikerjakannya. Jika perkerjaan itu berupa ibadah, maka ia melakukannya dengan semestinya sebagai ibadah. Jika pekerjaan itu berupa kesibukan kerja dalam urusan duniawi atau aktivitas keseharian yang bersifat duniawi, maka ia sisipkan pada pekerjaan itu niat yang benar dan tujuan agar pekerjaan itu menjadi penolong baginya untuk melakukan ketaatan kepada Alloh. Hal ini memiliki pengaruh yang efektif untuk menangkis kegundahan, kesedihan dan kesusahan. Berapa banyak orang yang terkena keguncangan dan kekalutan batin, lalu terjangkiti berbagai penyakit. Ternyata terapinya yang manjur adalah melupakan penyebab yang membuat jiwanya kalut dan guncang, dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan dari berbagai tugasnya. Seyogianya kesibukan yang ditanganinya itu adalah hal-hal yang disenangi dan digandrungi jiwa. Karena, hal itu lebih mengacu untuk terwujudnya tujuan yang bermanfaat itu. Wallohu A'lam. 4. Konsentrasi Untuk Menghadapi Hari Ini. Diantara saran yang dapat menangkis kesedihan dan keguncangan hati adalah terputusnya pikiran sepenuhnya untuk memberikan perhatian kepada pekerjaan hari ini yang sedang dihadapinya dan menghentikan pikiran dari menoleh jauh ke waktu mendatang dari kesedihan menengok masa lampau. Karenanya, Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam berlindung kepada Alloh dari al-hamm (kegundahan) dan al-huzn (kesedihan). "اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ". "Ya Alloh Aku berlindung kepadamu dari kegundahan dan kesedihan". (HR. Bukhori: 2893) Al-huzn adalah kesedihan terhadap perkara-perkara yang telah lampau yang tidak mungkin diputar ulang ataupun di ralat. Sedangkan al-hamm: adalah kegundahan yang terjadi disebabkan oleh rasa takut dan khawatir terhadap sesuatu yang mungkin terjadi di masa mendatang. Jadi, hendaknya seorang hamba itu menjadi "putera harinya" yakni ; menjadi manusia terbaik dalam menyongsong harinya yang sedang dihadapinya dan sekaligus mampu mengkonsentrasikan keseriusan dan kesungguhannya untuk memperbaiki hari dan detik yang sedang dihadapinya itu. Karena, pemusatan hati untuk berbuat demikian akan menuntutnya untuk mengoptimalkan pekerjaan, dan iapun dapat terhibur dengannya dari kegundahan dan kesedihan. Nabi sholallohu alaihi wa sallam memanjatkan do'a atau mengajari umatnya untuk mengamalkan suatu do'a, beliau menganjurkan seiring memohon dan mengharap pertolongan dan karunia Alloh subhanahu wa ta'ala. agar mereka serius dan sungguh-sungguh dalam melakukan apa yang menjadi sebab terwujudnya harapannya itu dan menghindari apa yang menjadi sebab terhalangnya. Karena, do'a itu bergandeng dengan perbuatan. Maka seorang hamba harus bersungguh-sungguh untuk meraih apa yang bermanfaat baginya dalam kehidupan religinya ataupun duniawinya dan memohon kepada Alloh subhanahu wa ta'ala keberhasilan maksud dan tujuannya, seiring memohon pertolongan kepadaNya untuk itu, sebagaimana apa yang disabdakan oleh Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam: "المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِيْ كُلِّ خَيْرٍ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ". Artinya: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Alloh dari pada mukmin yang lemah. Dan pada setiap kebaikan, Berupaya keraslah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Alloh serta janganlah kamu lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: Andaikan aku berbuat demikian tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi katakanlah: Alloh telah mentaqdirkan (ini). Alloh melakukan apa yang dikehendakiNya. Karena, kata "andaikan" membukakan pintu perbuatan syetan. (HR. Muslim: 6945) Dalam hadits ini, Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam memadukan antara dua hal. Yaitu antara perintah berupaya keras untuk mencapai hal-hal yang bermanfaat dalam berbagai kondisi, seiring memohon pertolongan kepada Alloh subhanahu wa ta'ala serta tidak tunduk mengalah kepada sikap lemah, yang ia adalah sikap malas yang membahayakan, dan antara sikap pasrah kepada Alloh dalam hal-hal yang telah lampau dan telah terjadi seiring meniti dengan mata hati terhadap qadha' dan taqdir Alloh. Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam membagi segala kejadian dua bagian: Bagian pertama: Adalah hal yang dimungkinkan seorang hamba berupaya meraihnya atau meraih yang mungkin darinya, atau hal dimungkinkan ia menangkisnya atau meringankannya. Disini seorang hamba harus memunculkan daya upaya seiring memohon pertolongan kepada Alloh. Bagian kedua: Adalah hal yang tidak dimungkinkan ia melakukan itu semua. Di sini seorang hamba harus tenang, ridho dan pasrah. Tidak diragukan, bahwa berpedoman kepada prinsip ini dengan baik adalah merupakan sarana menuju kesenangan hati dan hilangnya kegelisahan maupun kegundahan. |

