Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
MENUJU MASYARAKAT ISLAMI
Darling calls for pay restraint

MUQADDIMAH

Rasulullah  diutus Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai “rahmatan lil 'alamin”, yaitu pembawa kerahmatan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk seluruh alam semesta. Kerahmatan yang dibawa oleh Rasulullah  adalah Islam.

Islam  adalah  agama  Alloh Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya  dan  Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amal di luar Islam. Seluruh penganut selain Islam akan merugi di akhirat nanti. Islam yang di maksud adalah Islam seluruhnya yang diterima dan dilaksanakan baik bentuk tekstualnya maupun substansinya. Bukan substansi pemahaman universal yang hanya serupa dengan substansi Islam tetapi tak sama, bahkan pada hakikatnya adalah kesesatan. Islam diturunkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk kita terapkan, bukan hanya untuk dipercaya. Hanya ketika diterapkan itulah, Islam menjadi kerahmatan untuk seluruh isi alam semesta.

Kita harus menerapkan Islam secara keseluruhan, jika kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menerapkannya dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

Masalah penerapan Islam bukanlah masalah kebebasan memilih bagi ummat Islam, akan tetapi merupakan konsekwensi dan pembuktian dari keislaman dan keimanan mereka.

Lalu mengapa kita harus ragu? Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Kerahmatan untuk kita semua!

Hanya dengan Islam, kebahagian sejati bisa dicapai oleh pribadi-pribadi, keluarga-keluarga dan masyarakat.

BAB I

MASYARAKAT ISLAMI

 

Masyarakat Islami adalah masyarakat yang dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam, satu-satunya agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala . Masyarakat yang secara kolektif atau orang perorangan bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam meniti sirotul mustaqim. Masyarakat yang didominasi oleh istiqomah, kejujuran, kebersihan ruhani dan saling kasih mengasihi.

Walaupun mereka berbeda-beda dalam tingkat dan kadar pemahaman terhadap rincian ajaran Islam, tetapi mereka telah memiliki pondasi yang sama untuk menerimanya secara totalitas.

Mereka adalah masyarakat yang tunduk dan patuh pada syariat Alloh Subhanahu wa Ta’ala , dan berupaya mewujudkan syariat Nya dalam semua aspek kehidupan. Saat itu, pada dasarnya mereka sedang berupaya secara serius mewujudkan arti penghambaan yang sebenarnya kepada Rabbul 'alamin. Untuk itulah, mereka bersungguh-sungguh mengamalkan sisi-sisi tuntunan ajaran Islam dalam bentuk amal shalih, dengan upaya yang maksimal dari kemampuan mereka.

Mereka adalah masyarakat yang dengan sungguh-sungguh menjaga diri agar tidak terjatuh secara  sengaja dalam bentuk kedurhakaan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala . Kalaupun terkadang tergelincir ke dalam bentuk dosa dan ma'siyat, mereka segera kembali kepada-Nya, tersungkur dengan bertaubat memohon maghfirah-Nya yang sangat luas dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali. Walaupun pada kenyataannya mungkin saja ketergelinciran itu terulang kembali.

Pada masyarakat seperti ini, amanat dan keamanan akan sangat terjaga. Kerusakan dalam segala bentuknya akan sangat dan sangat terminimalisir. Kemiskinan yang terjadi hanyalah kemiskinan yang benar-benar normal dan tak terhindarkan. Bukan seperti kemiskinan yang merebak bagaikan wabah, disebabkan oleh konspirasi penghisapan darah rakyat jelata. Kemiskinan yang normal dan sangat minimal itu pun teringankan oleh keberkahan segalanya. Kemudian harapan-harapan balasan akhirat atas kesabaran hidup di kemiskinan menjadi pelipur dan penghibur yang besar sekali. Akhirnya hubungan mesra dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan mengguyur seluruh orang dengan hujan kebahagiaan sejati yang tak ada hentinya.

Ketika masyarakat telah didominasi dan dituntun oleh norma-norma Islam, maka pasti Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan memenuhi janji-Nya, dengan memberikan kepada mereka keberkahan dalam semua sisi kehidupan mereka.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :