Oase

REALITAS

Rosululloh saw bersabda :

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Hampir-hampir berbagai bangsa memangsa kalian seperti orang-orang lapar memangsa tempat makanannya. Seseorang bertanya : dikarenakan kami sedikit di saat itu ya Rosululloh? Beliau saw menjawab : bukan, kalian di saat itu banyak, akan tetapi kalian adalah buih seperti buih lautan. Sesungguhnya Aloh akan mencabut perasaan kharisma kalian  dari musuh-musuh kalian dan akan menanamkan penyakit wahn di alam qolbu kalian. Seseorang bertanya pula : apakah penyakit wahn itu? Beliau saw menjawab : cinta dunia dan benci kematian.”

(Hr. Abu Daud : 3745  Imam Ahmad : 21363 Ibnu Abi Syaibah : 37247 )

 

audaraku kaum muslimin !

Hadits Rosululloh saw di atas mengajarkan kepada kita beberapa pondasi tarbiyyah, di antaranya ialah :

1. Mengenal hakekat realitas yang terjadi di sekeliling kehidupan kita untuk diukur dalam timbangan Al Qur`an dan As Sunnah adalah sesuatu yang urgen,  atau penting.

 Bagaimana di dalam hadits ini beliau memberikan petunjuk kepada para shohabatnya tentang peristiwa-peristiwa yang pasti terjadi pada umat Islam di masa depan. Ini bukanlah sebuah prediksi atau ramalan ansich, tetapi sebuah mu`jizat yang diberikan Alloh Swt untuk dijadikan pelajaran bagi umatnya agar memahami waqi` (realitas)nya.

                Pemahaman tentang waqi` (realitas) umat Islam dan lingkungannya merupakan konsekwensi logis dari perintah Alloh swt dan RosulNya untuk berilmu secara rosikh (Mendalam dan mengakar) serta tafaqquh dalam agamanya. Bahkan – sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman Al Umar hafidzohulloh – bahwa berilmu tentang realita umat bagian dari qaedah :

"مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ "

Sesuatu dimana sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali denganya, maka sesuatu itu bersifat wajib”.

                Seorang muslim adalah seorang yang jeli dan cerdik serta sangat luas dan mendalam tentang lingkungan yang dia hidup di dalamnya. Umar bin Al Khoththob rda memberikan gambaran yang sangat indah tentang seorang muslim :

لَسْتُ بِالْخَبِّ وَلاَ الْخَبُّ يَخْدَعُنِي

Aku bukanlah penipu, tetapi penipu tidak mampu memperdayaiku”. (Baca Fiqhul Waqi`, Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman Al `Umar : 9)

                Bahkan, kesempurnaan istinbath seorang mufti terhadap berbagai peristiwa hukum yang menimpa umat – sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Qoyyim rohimahulloh - tidak akan sempurna kecuali dengan berakar pada dua pemahaman :

a. فَهم الواقع والفقه فيه

Pemahaman waqi` (realitas hukum) dan faqih terhadapnya serta mengistinbatkan pengetahuan tentang hakekat apa yang terjadi dengan berbagai petunjuk, tanda dan ciri-cirinya, sampai dia mengetahuinya secara lengkap.

b. فهم الواجب في الواقع

Memahami kewajiban tentang realitasnya yaitu dengan memahami hukum Alloh yang akan diterapkan pada peristiwa tersebut, baik di dalam Al Qur`an maupun As Sunnah, lalu menetapkan hukum tersebut dengan realitanya.

(Baca I`lam Al Muwaqqi`in : )

                Demikianlah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk peduli dengan waqi` (realitas) kehidupannya agar mampu diterapkan kesemuanya menurut aturan Al Qur`an dan As Sunnah yang mulia.

2. Di antara fiqhul waqi` yang diajarkan oleh Rosululloh saw pada hadits di atas adalah memahami kondisi faktual kaum muslimin dan kaum kafirin di masa kehidupannya.

Alloh swt berfirman :

Dan demikianlah Kami menerangkan ayat-ayat al-Qur'an. (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS. 6:55)

Siapakah bangsa-bangsa yang lapar untuk mencaplok kaum mu`minin ?

Merekalah bangsa kuffar dan umat-umat yang terjerumus dalam kesesatan.

Penyusun kitab `Aunul Ma`bud Syarh Sunan Abu Daud ketika mengartikan bangsa-bangsa berkata :

 

) يوشك الأمم) : أي يقرب فرق الكفر وأمم الضلالة

“(Hampir-hampir berbagai bangsa) artinya hampir-hampir kelompok-kelompok kaum kafir dan bangsa-bangsa kesesatan” (Aunul Ma`bud : )

Dengan tipu dayanya yang memikat, Iblis mampu mempengaruhi banyak manusia, bahkan sampai menjadikan mereka tentaranya yang siap menunaikan apa saja yang diperintahkannya. Menurut Muhammad Shofwat Nuruddin dalam mencapai tujuannya, Iblis membentuk empat kelompok pasukan : Dua pasukan pertama sangat tampak melakukan permusuhan dan dua pasukan kedua sangat tidak kentara secara dzohir, tetapi mempunyai dampak buruk yang jelas terlihat.

Pertama : Kelompok Kafirin yang dengki.

Mereka menggunakan seluruh upaya dalam upaya memerangi kaum mu`minin, karena mereka sama sekali tak tergugah oleh akhlak atau agama apapun. Merekalah yang dimaksud dalam firman Alloh swt :

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu (QS. 8:60)

Mereka tidak akan mundur kecuali saat mereka melihat dengan jelas kekuatan dahsyat kaum muslimin.

Kedua : Kelompok pelaku ma`siat.

Mereka masuk agama Islam pada tataran awal, akan tetapi dunia mampu menyelewengkan mereka dengan hiasan-hiasan indahnya. Mereka mengiran bahwa kema`siatan yang mereka geluti itu akan meraih kebahagiaan yang mereka dengung-dengungkan. Merekapun menyakiti kaum muslimin, walau hanya dengan kebusukan mereka, kefasikan dan kema`siatan mereka.  Ingatkanlah kepada mereka tentang bahaya dan ancaman yang menghadang mereka, kalau tidak, ingatlah firman Alloh swt :

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. 15:3)

Kelompok ketiga yang merupakan bagian yang tersembunyi.

Secara dzohir seakan-akan mereka menampakkan loyalitas kepada Islam, akan tetapi memiliki jiwa yang sangat keras memusuhi Islam, inilah kaum munafiqin.

Akan tetapi dampak negatif yang begitu tampak secara dzohir dapat kita rasakan, bahkan Alloh swt memberikan ciri-ciri dzohirnya agar kaum mu`minin tidak tertipu, di antaranya :

a. Menghalangi kaum muslimin untuk berhukum dengan hukum Alloh dan RosulNya (penegakan syari`at islam).

Apabila dikatakan kepada mereka:"Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. 4:61)

b. Menganggap kesyirikan, kekufuran dan kema`siatan sebagai suatu upaya reformasi bangsa dan masyarakat.

Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab:"Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:11-12)

Yang dimaksud dengan kerusakan dalam ayat ini menurut para ulama menyangkut 4 unsur penafsiran : kekufuran (seperti yang dikatakan Ibnu `Abbas), beramal ma`siat (seperti yang dikatakan Abu Al `Aliyah), meninggalkan perintah-perintah Alloh dan melaksanakan berbagai laranganNya (seperti yang dikatakan oleh Mujahid) dan kemunafiqan yang mencoba berdampingan dengan orang-orang kafir dan mencari-mencari berbagai rahasia kaum mu`minin (seperti yang dikatakan oleh Ali bin Ubaidillah). (Zad Al Masir : )

c. Saat diseru untuk kembali kepada pemahaman dan sikap beragama para salafus sholih (para shohabat, para tabi`in dan tabi`ut tabi`in) mereka mengatakan hal itu sebagai suatu sikap mundur dan kuno, kembali kepada zaman purba, tidak moderen.

Apabila dikatakan kepada mereka:"Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab:"Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman". Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. 2:13)

d. Pergaulan mereka terhadap sesama muslim hanyalah upaya mengolok-olok, bukan hubungan loyalitas atau ukhuwwah.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:"Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:"Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS. 2:14)

Kelompok keempat dari pasukan yang digelar syaithon untuk memerangi kaum muslimin adalah kelompok pengagum budaya dan ilmu pengetahuan kaum kafir.

Mereka sama sekali tak memiliki jati diri dan kebanggaan pada agamanya, yaitu Islam dan sesama saudaranya, yaitu kaum muslimin. Mereka selalu mengelu-elukan  apapun yang keluar dari usaha kaum kuffar. Setiap kali nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah dipandang tidak tepat dan kurang pas dengan hasil yang mereka dapatkan dari kaum kuffar, mereka mencoba merevisi nash-nash tersebut agar sesuai.

Alloh swt berfirman :

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:"Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab:"Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)". (QS. 7:138) (Baca “Majalah At Tauhid” : 2-5)

3. Di antara fiqh waqi` yang diajarkan oleh Rosululloh saw pada hadits di atas ialah kondisi di mana kaum muslimin saat itu berada dalam kondisi terjajah, tertindas dan terkuasai oleh kaum kuffar.

Karena jumlah mereka yang minoritas? Jawabnya bukan.

يومئذ ( كثير ) : أي عددا وقليل مددا ( ولكنكم غثاء كغثاء السيل ) : بالضم والمد وبالتشديد أيضا ما يحمله السيل من زبد ووسخ شبههم به لقلة شجاعتهم ودناءة قدرهم

Saat itu kalian mayoritas secara jumlah dan minim secara kualitas, (Akan tetapi kalian adalah buih seperti buih lautan) yaitu buih dan kotoran yang dibawa ombak. Mereka diserupakan dengan hal itu karena minimnya kejantanan mereka dan rendahnya kehormatan mereka. (Aunul Ma`bud : )

Rosululloh saw juga mengkhabarkan bahwa sebab utama yang terjadi di saat itu adalah dua hal :

a. Dicabutnya perasaan muhabah dari kaum kuffar kepada kaum mu`minin.

Perasaan muhabah adalah perasaan takut dan gentar yang selama ini menjangkiti kaum kuffar karena keimanan dan kehormatan serta kekuatan yang dimiliki kaum muslimin telah dicabut oleh Alloh swt dengan dicabutnya aqidah yang benar, kehormatan yang terjaga dan kekuatan yang melemah dari kaum muslimin sendiri.

Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmt dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. 8:46-47)

 

b. Tertanamnya penyakit wahn pada diri-diri kaum muslimin.

Cinta dunia dan benci mati, itulah hakekat wahn yang menimpa kaum muslimin di saat itu.

Beberapa nash menunjukkan tentang ma`na mencintai dunia dan takut kematian. Artinya mereka bergelimang dengan kesibukan dan kesenangan dunia sehingga lari meninggalkan jihad fi sabilillah, karena takut kematian menjelang, padahal saat mengejar dunia dan kesenangannyapun mereka terkadang harus mengorbankan nyawa dan jiwanya.

Alloh swt berfirman :

Katakanlah:"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)

Rosululloh saw bersabda :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ قَالَ أَبُو دَاوُد الْإِخْبَارُ لِجَعْفَرٍ وَهَذَا لَفْظُهُ

“Jika kalian berjual beli `inah, mengambil ekor-ekor sapi, bergelimang pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Alloh akan menebarkan kehinaan untuk kalian. Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (Hr. Abu Daud : 3003 dan Imam Ahmad : 4765)

Menurut penyusun Aunul Ma`bud dikatakan :

 

وسبب هذا الذل والله أعلم أنهم لما تركوا الجهاد في سبيل الله الذي فيه عز الإسلام وإظهاره على كل دين عاملهم الله بنقيضه وهو إنزال الذلة بهم فصاروا يمشون خلق أذناب البقر بعد أن كانوا يركبون على ظهور الخيل التي هي أعز مكان .

  

 

Sebab kehinaan ini adalah (Wallohu a`lam) karena mereka meninggalkan jihad fi sabilillah yang merupakan sumber `izzatul Islam dan kemenangannya di atas seluruh agama. Maka Alloh memperlakukan mereka dengan lawananya yaitu diturunkanNya kehinaan kepada mereka, sehingga mereka berjalan di belakang ekor sapi setelah sebelumnya mereka menaiki atas pundaknya yang merupakan tempat yang paling mulia dari sapi. (Aunul Ma`bud: )