Oase

MAKNA BERLINDUNG DARI SYAITHON

 أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ

Makna A'udzu (أَعُوذُ).

Kata a'udzu (أَعُوذُ) bersal dari kata Al-A'udz (العَوْذ). Kata ini memiliki dua makna:

1)      Al-Iltija' (الالْتِجَاءُ) yang berarti: bersandar atau berlindung.  Al-Istijaroh (الاسْتِجَارَةُ) yang berarti: minta perlindungan.

2)      Al-iltishoq (الالْتِصَاقُ) yang berarti: melekat atau berdekatan.

Dikatakan oleh orang Arab (أَطْيَبُ اللَّحْمِ عَوْذُهُ) yakni daging yang paling enak adalah A'udzuhu (yang dekat dengan tulang).

Makna Minasy Syaithon (مِنَ الشَّيْطَانِ).

Syaithon adalah kata tunggal dari kata jamak (الشَّيَاطِيْنُ). Syaithon memiliki tiga makna:

1)      Bermakna: (البَعِيْدُ) : jauh.

Syaithon berasal dari kata syatona (شَطَنَ) bermakna (بَعُدَ) jauh, yaitu jauh dari tabi'at manusia. Jauh dari kebaikan karena kefasikan.

Contoh. orang Arab mengatakan: (شَطَنَتْ دَارِي مِنْ دَارِكَ) syathonat darii min daruka, yakni rumahku jauh dari rumahmu.

2)      Bermakna: (المُتَمَرِّدُ) sombong.

Makna ini dekat dengan makna pertama, keduanya saling berkaitan.

Imam Thobari rohimahulloh berkata: "Syaithon (الشَّيْطَانُ) dalam bahasa Arab; setiap yang sombong dari golongan Jin, manusia, hewan dan segala sesuatu. Segala sesuatu yang sombong (المُتَمَرِّدُ) Dinamakan syaithon karena akhlak dan perbuatannya berbeda dengan akhlak dan perbuatan makhluk sejenisnya. Dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ath-Thobari)

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman:

 وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الْأِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

"Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)". (QS. Al An'am [6]: 112)

Alloh subhanahu wa ta'ala menjadikan syaithon dari golongan manusia, sebagaimana Dia menjadikannya dari golongan Jin.

وعن عُمَر بْن الْخَطَّاب رَضِيَ اللَّه عَنْهُ [ أنه رَكِبَ بِرْذَوْنًا فَجَعَلَ يَتَبَخْتَر بِهِ فَجَعَلَ يَضْرِبهُ فَلَا يَزْدَاد إِلَّا تَبَخْتُرًا فَنَزَلَ عَنْهُ وَقَالَ مَا حَمَلْتُمُونِي إِلَّا عَلَى شَيْطَان مَا نَزَلْت عَنْهُ حَتَّى أَنْكَرْت نَفْسِي ] إِسْنَاده صَحِيح

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khoththob rodhiallohu anhu (suatu ketika) naik kuda, lalu (kuda) berjalan dengan lagak. Maka Umar memukulnya, tapi itu hanya menambah lagak jalannya. Maka Umar turun dan berkata: "Kalian tidak menaikan aku kecuali diatas syaithon. Aku tidak turun darinya hingga diriku mengingkari". (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka perkataanmu (مِنَ الشَّيْطَانِ) yakni dari segala yang sombong dari Jin dan Manusia, yang telah memalingkanku dari keta'atan kepada Robbku, dan dari membaca kitab-Nya. (Tafsir Muyassar)

3)      Bermakna (الاحْتِرَاقُ).

Sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa syaithon berasal dari kata syatho (شَاطَ) karena syaithon adalah makhluk yang terbuat dari api. (Tafsir Ibnu Katsir).

Yang rojih (lebih benar): bahwa syaithon berasal dari syatona (شَطَنَ) yang bermakna jauh dan sombong. Dan untuk itu setiap jin, manusia, dan hewan yang sombong dinamakan syaithon.

Imam Sibaweh rohimahulloh berkata: "Arab berkata: tasyaithona (تَشَيْطَنَ) fulan, apabila dia berbuat perbuatan syaithon. Jika syaithon bersal dari kata syatho (شَاطَ), mereka akan berkata: "Tasyayyatho (تَشَيَّطَ). (Tafsir Ibnu Katsir)

Makna Ar-Rojiim (الرَّجِيمِ).

Ar-Rojiim berasal dari kata Ar-Rojm (الرَّجْمُ). Ar-Rojiim memiliki tiga makna:

1)   Bermakna Ar-Romyu (الرَّمْيُ) : lemparan. Kata Ar-Rajiim berarti yang terlempar, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

 وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوماً لِلشَّيَاطِينِ

"Sesungguhnya kami Telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithon". (QS. Al Mulk [67]: 5)

Dan Seperti perkataan bapak Nabi Ibrohim yang diceritakan oleh Alloh subhanahu wa ta'ala:

 لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ

"jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam". (QS. Maryam [19]: 46)

Perkataan kaun Nabi Nuh yang diceritakan dalam Al-Qur'an:

 لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

"Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam". (QS. Asy Syu'araa' [26]: 116)

2)      Yang terlaknat dan yang di caci-maki (المَلْعُوْنُ وَالمَشْتُوْمُ).

Setiap yang di caci maki dan cela dengan perkataan yang buruk adalah Marjum (مَرْجُوْمُ). (Tafsir Ath-Thobari)

3)      Yang Tertolak (المَطْرُوْدُ).

Maka Ar-Rojiim berarti yang tertolak dari rohmat Rohmat Alloh subhanahu wa ta'ala, dari kebaikan semuanya. Karena Alloh subhanahu wa ta'ala mengusir mereka dari surga, dan melemparinya dengan bintang yang bersinar.

 وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجاً وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ  * وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ

"Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan kami Telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya). Dan kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk". (QS. Al Hijr [15]: 16-17)

Pendapat yang pertama lebih masyhur dan lebih benar. (Tafsir Ibnu Katsir)

Makna أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :

قَالَ اللَّه تَعَالَى :  خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ * وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ .

"Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithon Maka berlindunglah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al A'raaf [7]: 199-200)

وَقَالَ تَعَالَى:  ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ * وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ  (المؤمنون: 96 - 98)

"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan Katakanlah: "Ya Robbku Aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaithon. Dan Aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Robbku, dari kedatangan mereka kepadaku". (QS. Al Mu'minuun [23]: 96-98)

وَقَالَ تَعَالَى :  ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ * وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Alloh. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Fushshilat [41]: 34-36)

Tiga ayat ini menjelaskan bahwa Alloh subhanahu wa ta'ala memerintahkan untuk membujuk musuh dari jenis manusia dan berbuat baik kepadanya agar dia kembali ketabi'at asalnya yang baik hingga saling tolong menolong.

Alloh subhanahu wa ta'ala juga memerintahkan untuk beristi'adzah dari musuh (Iblis) kerna tidak mungkin dia menerima kata-kata manis dan perbuatan baik, dan dia hanya berharap kehancuran bani Adam disebabkan permusuhannya antara dia dengan Nabi Adam alaihis salaam sebelumnya.

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman:

 يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّة ِ  (الأعراف: من الآية27)

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh syaithon sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapa kalian dari surga". (QS. Al A'raaf [7]: 27)

 إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ  

"Sesungguhnya syaithon itu adalah musuh bagi kalian, Maka anggaplah ia musuh(kalian), Karena Sesungguhnya syaithon-syaithon itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS. 035. Faathir [35]: 6)

 أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا  

"Patutkah kalian mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuh kalian? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Alloh) bagi orang-orang yang zalim". (QS. Al Kahfi [18]: 50)

Iblis telah bersumpah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala bahwa dia akan menyesatkan anak adam. Maka bagaimana bisa dapat dinasehati dan berbuat baik kepadanya.

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman menceritakan sumpah syaithon:

 قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ  (الكهف: من الآية50)

"Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau, Aku akan menyesatkan mereka semuanya.  Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka". (QS. Shaad [38]: 82-83)

Maka makna A'udzu billahi minasy syaithonir Rojiim yakni aku berlindung kepada Alloh subhanahu wa ta'ala, dari syaithon yang terkutuk, yang menyelakakanku dalam agama dan dunia, yang mengahal-halangiku dari perbuatan yang Engkau perintahkan, yang mengojok-ojoki untuk mengerjakan larangan-laranganmu.

Sesungguhnya syaithon tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan izin Alloh subhanahu wa ta'ala. Karena ini Alloh memerintahkan untuk menasehati dan membujuk syaithon dari golongan manusia, agar terhindar dari ancaman, dan perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Alloh memerintahkan untuk beristi'adzah dari syaithon dari golongan jin karena mereka tidak menerima suapan, rayuan, tidak terpengaruh dari kata-kata baik. Tidak dapat yang menghalanginya kecuali yang menciptakannya.