Oase

TAZKIYYAH DAN TARBIYYAH

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Qs. Al Jum`ah [62] : 2)

Di dalam ayat ini Alloh Subhanahu wa Ta`ala memberikan tiga tugas penting yang diemban oleh Nabi Muhammad Sellewlohu `alaihi wa sallam, yaitu :

1. Membacakan ayat-ayat Alloh (يتلو عليهم أياته)

2. Mentazkiyah ummat (يزكيهم) dan

3. Mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah kepada seluruh ummat.

(يعلمهم الكتاب والحكمة)

Imam Syafi`i rohimahuwloh mengatakan :

Alloh menyebutkan Al Kitab yang berarti Al Qur`an. Diapun menyebutkan Al Hikmah di mana aku mendengar para ahli ilmu Al Qur`an yang aku ridhoi berkata : bahwa makna hikmah adalah sunnah Rosululloh Sellewlohu `alaihi wa sallam...” (Ar Risalah : 78 – 79)

Keseluruhan tiga tugas penting tersebut merupakan kerja tarbiyyah dan tazkiyyah.

Tarbiyyah dan tazkiyyah berarti suatu usaha memindahkan ma`lumat dzihniyyah (pengetahuan teoritis) dari medan rasionalitas baku kepada medan tathbiq amali (penerapan realitas) yang hidup dengan cara berjenjang, bertahap dan saling melengkapi serta seimbang.

Pada hakekatnya tarbiyyah dan tazkiyyah adalah usaha mendekatkan mad`u (peserta didik) kepada puncak kesempurnaan Insaniyyahnya dengan setiap upaya yang disyari`atkan. Hal ini berarti tarbiyyah adalah upaya mencetak generasi dan mempersiapkan sosok-sosok utama untuk sampai ke tingkat maksimal kemanusiaannya dengan senjata aqidah yang benar, amal yang sholih dan akhlaq yang mulia di dunia serta mempersiapkan peraih ni`mat utama sebagai penghuni surga di akhirat.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Di mana mereka memandang Robb mereka. (QS. Al Qiyamah [75]:22-23)

Tarbiyyah dan tazkiyyah begitu urgen dalam prinsip da`wah kepada ummat. Hal tersebut dikarenakan beberapa unsur pendangan berikut ini :

1. Tarbiyyah dan tazkiyyah merupakan tugas utama para Nabi.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali `Imron [3]:164)

Para nabi dan rosul merupakan sosok-sosok tauladan bagi ummat, terutama para da`i yang menyeru kepada Alloh Subhanahu wa Ta`ala. Sedangkan tugas utama mereka adalah mentarbiyyah dan mentazkiyyah ummat. Karenanya menjadi kehormatan bagi seorang da`i untuk mentauladani sosok-sosok mulia tersebut dalam membina ummat.

2. Tarbiyyah dan tazkiyyah merupakan penjaga dari berbagai fitnah yang menerjang.

Da`wah dan para da`i adalah sosok-sosok pertama di muka bumi yang sangat besar diterjang berbagai macam ujian dan fitnah, baik dari arah kebaikan maupun keburukan, baik dari arah yang disuka maupun dibenci. Tidak ada yang selamat  dari berbagai fitnah tersebut kecuali – dengan izin Alloh -  melalui sebuah tarbiyyah yang membentuk kebesaran akhirat dan kekerdilan dunia, serta membentuk suatu sikap mendahulukan yang kekal di bandingkan yang fana.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Robbnya, lalu dia sholat. Tetapi kalian (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A`la [87]:14-17)

Ibnu `Atiyyah Al Andalusi menguraikan :

(تَزَكَّى) مَعْنَاهُ : طَهَّرَ نَفْسَهُ وَنَمَّاهَا بِالْخَيْرِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : ((مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ تَطَهَّرَ مِنَ الشِّرْكِ)). وَقَالَ الْحَسَنُ : مَنْ كَانَ عَمَلُهُ زَاكِيًا. وَقَالَ أَبُو الأَحْوَصِ : مَنْ رَضَخَ مِنْ مَالِهِ وَزَكَّاهُ

“(Tazakka) artinya adalah : mensucikan dan menumbuhkan jiwanya dengan kebaikan. Ibnu `Abbas rodiyawlohu anhuma berkata : Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illawloh, berartid dia bersuci dari syirik. Al Hasan berkata : yaitu orang yang amalnya suci. Abu Al Ahwas berkata : yaitu orang yang mendermakan dan mensucikan hartanya”. (Al Muharrir Al Wajiz fi Tafsiril Kitabil Aziz : 1970)

3. Tarbiyyah dan tazkiyyah merupakan usaha prefentif dari kerusakan zaman

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

 

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Robbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Huud [11]:116-117)

Di dalam keterangan Tafsir “Aysar At Tafasir” (564) karya Abu Bakar Jabir Al Jazairi diterangkan :

أَصْحَابُ بَقِيَّةٍ وَالْبَقِيَّةُ أَهْلُ فَضْلٍ وَدِيْنٍ وَصَلاَحٍ يُوْجَدُوْنَ كَبَقِيَّةِ بَاقِيَّةٍ فِى وَسَطِ أُمَّةٍ ضَالَّةٍ فَاسِدَةٍ غَلَبَ عَلَيْهاَ الضَّلاَلَ وَالْفَسَادَ فَتُوْجَدُ بَقِيَّةٌ صَالِحَةٌ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ

“(Ulu Baqiyyah) adalah pemilik baqiyyah. Baqiyyah adalah orang yang memiliki keutamaan agama dan kesolehan. Keberadaan mereka seperti sosok yang tersisa di tengah umat yang sesat dan rusak yang didominasi oleh kesesatan dan kerusakan. Wujudlah mereka sisa umat yang soleh yang melakukan amar ma`ruf dan nahi munkar”. 

Di dalam ayat ini Alloh Subhanahu wa Ta`ala mengingatkan bahwa selama di dalam penduduk suatu negeri di masa manapun masih terdapat orang-orang yang berbuat kebaikan, Alloh Subhanahu wa Ta`ala tidak akan membinasakan mereka. Maka, orang-orang yang terbina dalam tarbiyyah dan tazkiyyah pasti adalah orang-orang yang terjaga dari fitnah zaman.

4. Tarbiyyah dan tazkiyyah merupakan metode meraih kedaulatan

Pada hukum kauniyyah Alloh, zaman akan silih berganti antara kebaikan dan kerusakan. Ada masanya Alloh tentukan kebaikanlah yang akan berkuasa dan berdaulat, tetapi ada masanya pula kerusakanlah yang akan berkuasa dan berdaulat.

Di dalam undang-undang kauniyyah pergantian kedaulatan kebaikan dan kerusakan, Alloh Subhanahu wa Ta`ala menentukan masing-masing memiliki syarat perwujudannya. Di saat syarat perwujudan kebaikan yang ada, maka kebaikanlah yang akan berkuasa dan berdaulat. Sedangkan di saat syarat perwujudan kerusakan yang ada, maka kerusakanlah yang akan berkuasa dan berdaulat.

عَنِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ وَحَوْلَ الْبَيْتِ سِتُّوْنَ وَثَلاَثُمِائَةِ نُصُبٍ فَجَعَلَ يَطْعَنُهَا بِعُوْدٍ فِى يَدِهِ وَيَقوْلُ :

 

Ibnu Mas`ud rodiyallohu `anhu meriwayatkan bahwa ketika Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam memasuki Makkah, di saat itu di sekeliling Baitulloh terdapat 360 berhala. Kemudian beliau menghancurkannya dengan senjata yang ada di tangannya dan mengucapkan ayat:

Dan katakanlah:"Yang benar  telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al Isro [17]:81). (HR. Al Bukhori : 2298, Tirmidzi : 3063 dan Ahmad ; 3403)

Penegakan kebenaran dan kebaikan melalui para pejuangnya yang beriman, bertauhid, bersunnilah syarat terwujudnya kedaulatan kebenaran tersebut. 

Kerajaan Parsi Majusi yang berjaya selama 1000 tahunpun hancur berantakan hanya dalam waktu beberapa tahun saja, ketika berbenturan dengan gerakan sunniyyah pertama 1400 tahun yang lalu. kerajaan Rum hengkang dari mayoritas wilayah yang dikuasainya, ketika singa-singa sunnah menerkamnya. Semuanya hancur berantakan dan porak-poranda ketika telah datang panji kebenaran sunniyyah yang dibawa oleh para prajurit setianya.

Ketika Alloh Subhanahu wa Ta`ala telah melihat kejujuran pejuang-pejuang sunnah dan keikhlasan serta kesungguhan mereka telah mencapai puncaknya (sebagai atsar terbiyyah mereka), kemenanganpun diturunkan dari sisiNya untuk orang-orang yang beriman.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

 

 

Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap hanya beribadah-kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. Dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, dan ta'atlah kepada rosul, supaya kalian diberi rahmat. (QS. An Nur [24]:55-56)

Sayyid Qutb rohimahuwloh berkata :

 Sesungguhnya janji Alloh telah pernah terwujud serta akan terus terwujud dan eksis selama kaum muslimin menegakkan syarat Alloh (yaitu mereka hanya beribadah kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku). Janji Alloh dicanangkan bagi setiap siapa saja di antara umat ini yang menegakkan syaratnya hingga hari kiamat. Tertundanya kemenangan, kedaulatan dan kekuasaan serta rasa aman hanya karena disebabkan adanya cacat dalam memenuhi syarat Alloh Subhanahu wa Ta`ala”.  (Fi Dzilalil Qur`an : 4/2529-2530)

Manhaj Tarbiyyah dan tazkiyyah menurut Ahlus sunnah wal Jama`ah berdiri berdasarkan ramba-rambu utama berikut ini :

1. Robbaniyyah.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Alloh berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kalian menjadi abdi-abdiku bukan abdi Alloh". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya. (QS. Ali Imron [3]:79)

Ibnu `Abbas rodiyawlohu `anhuma, Abu Rizin rohimahuwloh dan ulama lainnya mengatakan :

حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ حُلَمَاءُ

Mereka adalah orang-orang yang bijak, berilmu dan amat penyabar”.

Hasan Al Basri rohimahuwloh dan ulama lainnya juga berkata :

فُقَهَاءُ

Mereka adalah orang-orang yang faqih”.

Sedangkan riwayat dari Ibnu `Abbas rodiyawlohu anhuma pula, Sa`id bin Jubair, Qotadah, Ato Al Khurosani, Atiyyah Al Aufi, Robi bin Anas dan Al Hasa berkata :

أَهْلُ عِبَادَةٍ وَأَهْلُ تَقْوَى

Mereka adalah ahli ibadah dan orang yang bertaqwa”.

(Lihat Tafsir Al Qur`anil Adzim, Ibnu Katsir : 244)

Tarbiyyah dan tazkiyyah yang diterapkan berasaskan Kitabulloh dan sunnah rosulNya, membacanya, menghafalnya, mema`nakannya, memahami dan mentadabburkannya serta semaksimal mungkin mengamalkan dan menda`wahkannya.

2. Wasathiyyah.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

 

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kalian  menjadi saksi atas (perbuatan) manusia (QS. Al Baqoroh [2]:143)

Syeikh Abdurrohman As Sa`diy rohimahuwloh berkata :

 “(Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat wasat) yaitu adil dan terpilih. Selain wasat, merupakan sisi-sisi yang masuk dalam jurang bahaya. Untuk itu, Alloh telah menjadikan umat ini wasat (adil dan terpilih) dalam seluruh urusan agamanya”. (Taisirul Karimir Rohman : 1/157)

Sayyid Qutb rohimahuwloh berkata :

وَإِنَّهَا لَلأُمَّةُ الْوَسَطُ بِكُلّْ مَعَانِى الْوَسَطِ, سَوَاءٌ مِنَ الْوَسَاطَةِ بِمَعْنَى : اَلْحَسَنِ وَالْفَضْلِ أَوْ مِنَ الْوَسَطِ بِمَعْنَى : الإِعْتِدَالِ وَالْقَصْدِ أَوِ الْوَسَطِ بِمَعْنَاهُ الْمَادِيِّ وَالْحِسِيِّ أُمَّةً وَسَطًا فِى التَّصَوُّرِ وَالإِعْتِقَادِ أُمَّةً وَسَطًا فِى التَّفْكِيْرِ وَالشُّعُوْرِ  أُمَّةً وَسَطًا فِى التَّنْظِيْمِ وَالتَّنْسِيْقِ أُمَّةً وَسَطًا فِى الإِرْتِبَاطَاتِ وَالْعَلاَقَاتِ أُمَّةً وَسَطًا فِى الزَّمَانِ أُمَّةً وَسَطًا فِى المَكاَنِ

Sesungguhnya ini adalah umat wasat dengan seluruh makna wasatnya. Baik berasal dari kata wasatoh: yang berarti kebagusan dan keutamaan, atau berasal dari kata wasat: yang berarti keadilan dan ketepatan, atau wasat dalam arti konkrit terlihat. Umat Islam adalah umat yang adil dan terpilih dalam keyakinan dan aqidah, umat yang wasat dalam pemikiran dan rasa, umat yang wasat dalam organiasasi dan system, umat yang wasat dalam hubungan dan ikatan, umat yang wasat dalam masa dan umat yang wasat dalam tempat”. (Fi Dzilalil Qur`an : 1/131)

Wasathiyyah adalah pilihan yang adil dari Rob Yang Maha adil. Tarbiyyah dan tazkiyyah yang berasaskan wasathiyyah berarti memilih dengan adil semua prosesnya tanpa ghuluw (melampaui batas) atau tafrith (mengurangi batas).

Wasathiyyah dengan seluruh ma`na yang terkandung di dalamnya. Wasathiyyah dalam prinsip dan aqidah, wasathiyyah dalam pemikiran dan rasa, wasathiyyah dalam hubungan dan pergaulan, wasathiyyah dalam halal dan harom, wasathiyyah dalam akhlak dan seluruh kehidupannya.

Tarbiyyah dan tazkiyyah ini digambarkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta`ala dalam firmanNya :

 

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Alloh lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Alloh adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan. (QS. An Nisa [4]:135)

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al Maidah [5]:8)

3. Salafiyyah.

Metode tarbiyyah dan tazkiyyah berdiri di atas landasan kesesuaian antara sikap perilaku dengan nash-nash syar`i, baik secara lafadz maupun ma`na. Ahlus Sunnah bukanlah mereka yang sepakat hanya pada lafadz nashnya saja, tetapi ma`nanya bebas seperti kaum bathiniyyah, bukan pula mereka yang hanya berbicara ma`na, walaupun harus menggunakan lafadz-lafadz bid`ah seperti kaum sufiyyah, atau bukan pula mereka yang memiliki perbedaan total dengan nash-nash syar`i, baik lafadz maupun ma`nanya seperti kaum filosof atau ilhad.

Ahlus Sunnah adalah pengikut salafus sholih di kalangan sahabat, tabi`in serta imam-imam mulia yang menegakan pedoman sikap dan tazkiyyatun nufus. Tidak ada hal baru yang mereka ciptakan sendiri untuk mentarbiyyah dan mentazkiyyah diri, semuanya hanya mengikuti apa yang pernah ditempuh oleh para pendahulunya yang sholih.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepada kalian agar kalian bertaqwa. (QS. Al An`aam [6]:153)

Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam bersabda ;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ خَطًّا ثُمَّ قَالَ: (( هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ))، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: (( هَذِهِ سُبُلٌ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ: وأنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ))

Dari Abdullah bin Mas’ud rodiyawlohu anhu, ia berkata bahwa suatu saat Rosulullah sellewlohu `alaihi wa sallam menggaris suatu garis  lurus kemudian bersabda: “Ini adalah jalan Alloh.”, kemudian beliau membuat beberapa garis ke samping kanan dan kirinya, dan bersabda: “Ini adalah jalan-jalan!, di setiap jalannya ada setan yang menyeru kepadanya, kemudian beliau membaca ayat: “Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.” al-An’am: 153. (HR al-Bukhariy, at-Tirmidziy, Ibnu Majah, Ahmad dan ad-Darimiy)

Abu Nu`aim dengan sanadnya kepada Mujahid saat mentafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala (dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.) berkata :

اَلْبِدَعُ وَالشُّبُهَاتُ

“(jalan – jalan yang lain) itu adalah bid`ah-bid`ah dan berbagai syubhat”. (Hilyatul Awliya: 3/293)

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

Katakanlah:"Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf [12]:108)

4. Ijabiyyah.

Ijabiyyah berarti semangat beramal dalam koridor kemampuan maksimal dan batas minimal, bukan sekedar idealisme kosong tanpa fakta. Metode tarbiyyah dan tazkiyyah harus memiliki metode realitas positif yang berarti adil dalam semua perkara dan memperhatikan kondisi setiap mukallaf. Rosululloh Sellewlohu `alaihi wa sallam bersabda :

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا

’Maksimalkanlah, atau minimallah. Berpagi-pagilah, atau waktu siang atau di waktu malam. Sederhanalah, sederhanalah, niscaya kalian akan sampai’ (Hr. Al Bukhori : 5982)

Taqorrub utama adalah kewajiban yang difardhukan. Sedangkan taklif yang dimustahabkan atau dianjurkan dilaksanakan sesuai kemampuan dan kesanggupan.

و أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amal-amal yang paling dicintai Alloh Ta`ala adalah amal yang kontinyu sekalipun sedikit’.

(Hr. Al Bukhori : 19, Muslim : 1305, Abu Daud : 1122, An Nasai : 754, Ibnu Majah ; 1700 dan Ahmad ; 22915)