Oase

MODEL PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

A. PENDAHULUAN.

     Proses belajar mengajar orang dewasa adalah suatu proses berlangsungnya kegiatan yang dilakukan oleh pelajar atau peserta didik dan pengajar yang dilakukan oleh pendidik atau pembimbing terhadap orang dewasa.

Proses ini juga dapat dikatakan sebagai proses “menerima-memberi” dalam arti peserta didik menerima pelajaran dan pendidik memberi pelajaran.

Di dalam Islam setidaknya kita mengenal tiga kalimat dasar tentang pendidikan dan pembelajaran atau proses belajar mengajar, yaitu:

1. Tarbiyyah (التربية)

2. Tadris (التدريس).

3. Ta`lim (التعليم)

Keduanya tertuang dalam firman Alloh Swt dalam Qs. Ali `Imron [3]: 79.

Tidak layak bagi seorang manusia yang Alloh berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Alloh". Akan tetapi seharusnya (dia berkata): "Hendaklah kalian menjadi orang-orang robbani, karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya. (QS. Ali `Imron [3]:79)

Pendidikan yang dalam bahasa Arab adalah Tarbiyyah berasal dari kata Roba, yarbu memiliki arti tumbuh (al-Nama), bertambah (al-Ziyadah), terjaga (al-Hifdz), membaikkan (al-Ishlah), meninggi (al-Irtifa`) atau suci (al-Tazkiyah).

Sedangkan pengertiannya dalam pandangan ahli-ahli agama Islam (seperti yang dirumuskan dalam Konfrensi Tokoh-tokoh Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Makkah Tahun 1400 H) adalah:

تَنْمِيَةُ الإِنْسَانِ فِى أَبْعَادِهِ السِّتَّةِ : اَلرُّوْحِي وَالْجَسَدِي وَالْعَقْلِي وَالْعَاطِفِي وَالأَخْلاَقِي وَالإِجْتِمَاعِي فِى إِطَارِ بُعْدٍ مَرْكَزِيٍّ هُوَ الإِيْمَانُ بِاللهِ وَوَحْدَانِيَّتِهِ

“Memberdayakan Manusia dalam 6 fungsi kemanusiaannya: ruhnya, jasadnya, akalnya, `atifah (psikisnya), akhlaknya dan sosialnya dalam poros iman kepada Alloh dan ketauhidannya”. (Abdul Majid bin Mas`ud: 41)

Sedangkan pengertian ta`lim dan tadris lebih mengacu kepada arti metode dan tehnik pendidikan di dalam Islam.

Rogib al-Isfahami misalnya mengatakan:

 “Ta`lim lebih dispesifikkan untuk sesuatu yang bersifat pengulangan dan penambahan sampai terwujudnya pengaruh ilmu dalam diri anak didik. Sebagian ahli mengatakan : ta`lim berarti penyadaran jiwa tentang gambaran makna. Sedangan ta`alum adalah proses penyadaran jiwa tentang gambaran makna itu”. (Mufrodat alfadz al-Qur`an: 356)

Sedangkan ketika beliau menjelaskan arti tadris. Beliau berkata:

“kata-kata darostul `ilma (دَرَسْتُ الْعِلْمَ) berarti saya meraih atsar (pengaruh) ilmu dengan hafalan. Ketika meraih itu semua dengan mengkontinyukan membaca, maka kontiyuitas membaca diungkapkan dengan kata dars”. (Mufrodat: 169)

 

Sedangkan dewasa menurut Kamus bahasa Indonesia (hal: 203) adalah: sampai umur; akil balig. Kholid Ahmad Syantut dalam bukunya (Tarbiyah al-Syabab al-Muslim: 20) menuturkan 4 perkembangan masa manusia dilihat dari umurnya setelah balig, yaitu:

1. al-Murohiqoh (Umur antara 12-16 Tahun).

2. al-Syabab (Umur antara 16-40 tahun)

3. al-Kahl (Umur antara 40-60 tahun)

4. al-Harim (Umur setelah 60 tahun)

Jadi orang dewasa dalam kajian ini mencakup keempat golongan umur yang kita sebutkan tersebut.

Di dalam ajaran Islam, Pendidikan orang dewasa difokuskan untuk membentuk kapribadian dan karakter manusia sebagai kholifah dan abdi Alloh swt.

Karakter orang dewasa yang akan dibentuk itu meliputi:

1. Karakter imaniyah, yang meliputi:

a. rabbaniyyah dan ikhlas.

b. Merasakan kebersamaan dengan Alloh

c. Spesial di dunia

d. Pencari Akhirat

e. Awwabun tawwabun.

2. Karakter Sulukiyyah akhlakiyyah, yang meliputi:

a. Shidq (kejujuran)

b. Sabar

c. Cinta dan itsar

d. Memberi dan berkorban

e. Iffah

3. Karakter Harakiyyah da`wiyyah, yang meliputi:

a. Memiliki tanggung jawab beramal untuk Islam

b. Mengimani realitas dan kerja

c. Generasi pekerja dan pembangunan jama`i

d. generasi dakwah dan jihad

e. Generasi yang seimbang dan adil

f. Generasi yang disiplin

4. Karakter Nafsiyyah (Psikologis), yang meliputi:

a. Tekad yang kuat.

b. Banyak berkorban

c. Senantiasa memenuhi janji, tidak mencla mencle

d. Mengetahui prinsip-prinsip, menghormatinya, menjaganya dari kekeliruan atau penyimpangan ataupun dari tawar menawar.

e. Stabilitas emosional. (Ali Muhammad al-Shollabi: 405-417)

Untuk itu, Metode pendidikan Islam diarahkan kepada:

1. Memberdayakan peserta didik agar beribadah hanya kepada Alloh, takut dan bertaqwa hanya kepadaNya.

2. Mewujudkan kebahagiaan peserta didik di dunia dan di akhirat.

3. Memperkuat ikatan gotong royong dan cinta kasih antara kaum muslimin

4. Menumbuhkan kecerdasan dan sumber daya  peserta didik serta mengungkap berbagai kemampuannya.

5. Menumbuhkan peserta didik dari segi ruhnya dan tubuhnya, baik secara individual maupun sosial.

6. Menjaga dan menumbuhkan fitroh serta hubungan manusia dibangun di atas fondasi Uluhiyyah Alloh dan ubudiyyah makhluk. (`Ishom Abdul Aziz al-Syayi`: 6-7)

 

Hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar yang perlu diperhatikan dan difahami adalah tahap proses belajar, suasana belajar, jenis belajar, cara belajar, ciri-ciri belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan mengajar yang perlu diperhatikan dan difahami adalah fungsi pendidik, sikap pendidik, dan factor-faktor yang mempengaruhi sikap pendidik.

Proses belajar mengajar orang dewasa yang akan diuraikan dalam pembahasan ini dititik beratkan atas: tahap proses belajar serta fungsi dan karakter pendidik.

 


B. TAHAP PROSES BELAJAR

     Melalui proses belajar, seorang pelajar atau peserta didik yang tadinya tidak tahu suatu hal menjadi tahu. Proses belajar ini sebenarnya merupakan masalah yang kompleks. Dikatakan demikian karena proses belajar terjadi dalam diri seseorang yang sedang melakukan kegiatan belajar tanpa dapat terlihat secara lahiriah (terjadi dalam jiwa orang). Oleh karena itu, proses belajar tersebut disebut proses intern. Sedangkan yang tampak dari luar adalah proses ekstern yang merupakan pencerminan terjadinya proses intern dalam peserta didik. Proses ekstern ini merupakan indicator yang menunjukkan apakah dalam diri seseorang telah terjadi proses belajar atau tidak. Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan pendidik adalah mengarahkan proses ekstern itu agar dapat mempengaruhi proses intern.    

1. Motivasi (إيجاد الدافع للتعلم)

Yang dimaksud motivasi di sini adalah keinginan untuk mencapai sesuatu hal, dalam bahasa Syari`ah dikenal dengan irodah, himmah atau niat.

Apabila dalam diri peserta didik tidak ada minat untuk belajar, tentu saja proses belajar tidak akan berjalan dengan baik. Jika demikian halnya, pendidik harus dapat menumbuhkan minat belajar tersebut dengan berbagai cara yang dibenarkan agama, antara lain dengan menjelaskna pentingnya pelajaran, dan mengapa materi itu perlu dipelajari.

Alloh Swt memberikan motivasi besar kepada para peserta didik dengan firmanNya:


niscaya Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (Qs. Al Mujaadilah [58] : 11)

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

 

dan Katakanlah: "Ya Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Qs. Toha [20] : 114)

Rosululloh saw sebagai murobbi mulia memberikan motivasi kepada para sohabatnya yang merupakan peserta didik terpilih di antaranya melalui dua cara:

a. Memberikan penjelasan tentang keutamaan ilmu dan para penuntut ilmu.

Abu Darda rodiyawlohu `anhu berkata: Aku mendengar Rosululloh sellewlohu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ سَبِيْلاً يَبْتَغِي بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْئٍ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِى الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثوُا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barang siapa yang menempuh suatu perjalanan dalam rangka mencari ilmu, niscaya Alloh mudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malikat meletakkan sayapnya kepada penuntut ilmu sebagai tanda ridho dengan apa yang dilakukannya. Seorang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh segala sesuatu sampai ikan-ikan yang ada di air. Keutamaaan orang yang berimu di atas seorang abid (hanya orang yang sering beribadah) seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang. Para ulama adalah para ahli waris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu.  Barang siapa yang meraih ilmu berarti dia telah meraih bagian yang besar”. (Hr. Abu Daud 3641, At Tirmidzi 2682 dan disohihkan oleh Al Albani dalam Sohih Al Jami` 6297)

b. Menanamkan perasaan butuh terhadap ilmu kepada peserta didik.

Saat seseorang yang sholatnya salah datang menemui Rosululloh saw, beliau berkata kepadanya: “Kembalilah.. Sholatlah lagi. Sesungguhnya anda belum (mendirikan) sholat”. Beliau saw mengulang-ulangnya beberapa kali, sehingga sohabat itu merasa butuh sekali belajar. Dengan serta merta sohabat itu berkata: “Demi Rob Yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada yang lebih baik dari ini, ajarkanlah aku”. (Hr. Bukhori: 66 dan Muslim: 2176)

 

2. Perhatian pada Pelajaran (اليقظة والإنتباه عند تلقي العلوم)

Peserta didik harus dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran. Apabila hal itu tidak terjadi, maka proses belajar akan mengalami hambatan. Apabila pendidik dapat menarik perhatian peserta didik, maka perhatian mereka akan tinggi.

Hal-hal yang bisa dilakukan oleh pendidik agar pendidik dapat menarik perhatian peserta didik adalah:

a. Berpenampilan rapi dan menarik.

Imam al-Khotib al-Bagdadi meriwayatkan dengan sanadnya dari Yahya bin Muhammad al-Syahid yang berkata:

مَا رَأَيْتُ أَوْرَعَ مِنْ يَحْيَ بْنِ مَعِيْن وَ لاَ أَحْسَنَ لِبَاسًا مِنْهُ

Aku tidak melihat ada orang yang lebih waro` dan lebih indah dalam berpakaian dari Yahya bin Ma`in”. (al-Jami` Li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami`: 381)

b. Berakhlaq mulia.

Diantara hal-hal yang harus dilakukan antara lain: menghormati dan menghargai peserta didik, memuji peserta didik yang berprestasi, bersikap adil kepada peserta didik, memperbaiki kesalahan dengan penuh hikmah, Perhatian kepada peserta didik, dan tawadhu`.

Saat Abu Huroiroh rda bertanya tentang hadits syafa`at, Rosululloh saw bersabda:

لقد ظننت يا أبا هريرة ألا يسألني عن هذا أحد أول منك لما رأيت من حرصك على الحديث

“Hai Abu Huroiroh, aku menduga tak ada seorangpun yang mendahuluimu menanyakan tentang hadis ini, karena aku melihat begitu semangatnya engkau terhadap hadis”. (Hr. al-Bukhori: 99)

c. Membuat variasi gerakan, gambar, suara dan nada.

Ibnu Mas`ud rodiyawlohu `anhu berkata :

خَطَّ رَسُوْلُ اللهِ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطُا عَنْ يَمِيْنِ ذَلِكَ الْخَطِّ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ وَهَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ

Suatu saat Rosululloh sellewlohu `alaihi wa sallam menggaris suatu garis lurus dengan tangannya, kemudian bersabda : ini adalah jalan Alloh yang lurus. Kemudian beliau sellewlohu `alaihi wa sallam membuat beberapa garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda : ini adalah jalan-jalan, di setiap jalan ini terdapat syaithon yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau sellewlohu `alaihi wa sallam membaca ayat ini (Sesungguhnya ini adalah jalanKu….Qs. 6:153)”. (Hr. Ibnu Mas`ud rodiyawlohu `anhu diriwayatkan oleh Imam Ahmad : 1/465 dan Al Hakim 2/318).

Rosululloh saw terkadang menggunakan gerakan dalam penjelasannya:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

“Saya dan penanggung jawab anak yatim seperti ini di dalam jannah”.

Beliau saw mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta sedikit merenggangkan keduanya. (Hr. al-Bukhori: 5304)

d. Memberikan contoh.

Alloh Swt sendiri banyak memberikan contoh di dalam ayat-ayatNya, agar manusia mendapatkan pembelajaran yang menyentuh.

 

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS. Ibrohim [14]:24-26)

Alloh Swt berfirman:

 

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (QS. Hud [11]:24)

e. Memberikan rangsangan berupa pertanyaan dan jawaban yang membuat peserta didik berpikir.

Banyak sekali cara ini digunakan oleh Rosululloh saw dengan kalimat-kalimat yang sangat indah:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟

“Takukah kalian apa itu gibah?” (Hr. Muslim: 2589)

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ

“Tahukah kalian apa itu kebangkrutan?” (Hr. Muslim: 2581)

إِنَّ مِنَ الشَّجَرَةِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ

“Sesungguhnya di antara berbagai ragam pohon terdapat satu pohon yang daun-daunya tidak berguguran. Sesungguhnya pohon itu perumpamaan seorang muslim. Terangkan kepada saya, pohon apakah itu?” (Hr. al-Bukhori: 61 dan Muslim: 2811)

f. Mengulangi hal-hal yang ditekankan.

Anas bin Malik rda berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلاَثًا وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا

Dahulu Nabi saw jika mengucapkan salam, beliau mengucapkannya tiga kali dan jika mengucapkan satu kalimat, beliau mengulangnya tiga kali”. (Hr. Al Bukhori: 94)

Bahkan menurut para tokoh ilmu-ilmu tafsir seperti Az Zarkasyi dan As Suyuthi cara pengulangan merupakan uslub yang banyak digunakan oleh Alloh swt dalam firman-firmanNya.

3. Menerima dan Mengingat (الإستماع والحفظ)

Setelah memperhatikan pelajaran, seorang peserta didik akan mengerti dan menerima serta menyimpan dalam pikirannya. Tahap menerima dan mengingat ini harus terjadi pada diri orang yang sedang belajar. Untuk itu para pendidik harus mencari cara dan tehnik agar pelajarannya dapat diterima dan diingat dengan baik. Di waktu perang Badar Jubair bin Mut`im (yang saat itu masih musyrik) mendengar Rosululloh saw membaca surat al-Thur, lalu Jubair berkata:

 

“Itulah awal iman tertanam di qolbuku”. (Hr. al-Bukhori: 4023)

4. Reproduksi (المراجعة)

Dalam proses belajar, seseorang tidak hanya harus menerima dan mengingat informasi baru saja, tetapi ia juga harus dapat menemukan kembali apa-apa yang pernah dia terima (reproduksi). Agar peserta didik mampu melakukan reproduksi, pendidik perlu menyajikan pengajarannya dengan cara yang mengesankan.

Ibnu `Abbas rda menceritakan:

كان رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان، حين يلقاه جبريل، فيدارسه القرآن. وكان جبرائيل يلقاه كل ليلة من شهر رمضان، فيدارسه القرآن، فلرسول الله أجود بالخير من الريح المرسلة

“… Saat Jibroil menjumpainya untuk memudarosahkan al-Qur`an. Jibroil menjumpai beliau setiap malam di bulan Romadhon…” (Hr. al-Bukhori: 6 dan Muslim: 2308)

5. Generalisasi (الإعتبار والإستنباط)

Pada tahap ini, peserta didik harus mampu menerapkan materi yang telah dipelajari di kasus-kasus lain dan dalam ruang lingkup yang lebih luas.

Untuk itu Rosululloh saw banyak sekali mengajarkan para sohabatnya tentang sesuatu dengan menggambarkan illat (alasan suatu hokum atau peristiwa) agar mereka dapat menerpakannya di kasus yang sama atau dalam ruang lingkup yang lebih luas.

وفي بضع أحدكم صدقة . قالوا : يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال : أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر

Rosululloh saw bersabda: pada setiap (kehormatan wanita) kalian ada sodaqoh. Mereka bertanya: ya Rosululloh, apakah saat salah seorang kami menumpahkan syahwatnya (kepada istri-istri kami) akan mendapatkan pahala? Beliau saw menjawab: apa pandangan kalian, seandainya dia menempatkan syahwatnya di tempat yang haram, apakah dia berdosa? Demikianlah jika dia menumpahkannya di tempat yang halal tentu dia akan mendapatkan pahala. (Hr. Muslim: 1006)

6. Menerapkan Apa Yang telah Diajarkan Serta Umpan Balik (العمل بالعلم)

Dalam tahap ini, peserta didik harus sudah memahami dan dapat menerapkan apa yang telah diajarkan.

Ayat ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskna pentingnya tahap pembelajaran ini.

 

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan. (QS. al-Shof [61]:2-3)

 

C. FUNGSI DAN KARAKTER PENDIDIK

Memperhatikan bahwa belajar bagi orang dewasa akan menghasilkan perubahan perilaku, baik dalam hal pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, maka fungsi pendidik (pembimbing) dapat dikatakan sebagai :

A. Pendidik adalah Ulama Robbani yang Bertaqwa.

Ketika mentafsirkan arti rabbani, Imam al-Bukhori rhm berkata :

اَلَّذِي يُرَبِّى النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Orang yang mentarbiyah manusia tentang ilmu-ilmu yang dasar sebelum ilmu-ilmu yang luas” (Ibnu Hajar: 1/160)

Seorang ulama di kalangan sahabat kecil, Abdullah bin Mas`ud rda berkata tentang rabbani:

حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ

Yaitu mereka yang memiliki kebijaksanaan dan keilmuan”. (Mazin al-Freh: 3/280)

Ulama rabbani adalah seorang yang memiliki basis keilmuan yang kokoh. Dalam tradisi keilmuan Islam, sudah barang tentu ilmu-ilmu dasar seperti Al-Qur’an dan hadits serta cabang-cabang ilmu yang melingkupinya menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Perangkat-perangkat ijtihad, berupa ”ilmu-ilmu alat” dan metodologi inverensi hukum dari sumber-sumber yang otentik, juga menjadi keniscayaan.

Setelah kapasitas ilmu yang memadai, seorang pendidik dituntut memiliki tingkat kebijaksanaan yang tinggi. Kebijaksanaan ini tidak diperoleh dari ruang kelas dan bangku kuliah. Sebab, kebijaksanaan bukanlah pengetahuan normatif yang dapat ditransfer dari guru kepada murid secara klasikal.

Kebijaksanaan sejatinya kualitas mental yang diperoleh lewat proses pembelajaran pribadi yang justru lebih lama dan lebih berat. Kebijaksanaan diperoleh dari penghayatan yang mendalam terhadap ilmu-ilmu yang telah dikaji. Ia juga digali dari pengalaman dan interaksi mendidik yang lama di tengah peserta didik.

Kapasitas intelektual yang menyelaraskan antara ilmu dan kebijaksanaan inilah yang akan melahirkan sosok ulama pendidik yang berpotensi memberi kontribusi dalam memajukan peserta didik. Kapasitas ilmu tanpa dibarengi kebijaksanaan akan tumpul di para peserta didik. Sebab, peserta didik hanya dapat disentuh dengan ”bahasa” mereka sendiri. Kemampuan untuk mentransformasikan ilmu yang dimiliki sesuai dengan ”bahasa” peserta didik adalah bagian penting dari kebijaksanaan.

Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa dasar ilmu adalah semu. Kebijaksanaan semacam ini hanya melahirkan makhluk oportunis yang cenderung akomodatif terhadap semua pihak. Walau harus mengorbankan nilai-nilai dasar dan prinsipil dalam Islam.

Ali rda berkata:

هُمُ الَّذِيْنَ يُغَذُّوْنَ النَّاسَ بَالْحِكْمَةِ وَيَرُبُّوْنَهُمْ عَلَيْهَا

Yaitu orang-orang yang memberikan gidzi kepada manusia dengan hikmah dan mendidik mereka dengan semua itu”. (Ibnu al-Jauzi: 1/431)

Abu al-Su`ud berkata:

اَلرَّبَّانِيُّ : اَلْكَامِلُ فِى الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ الشَّدِيْدِ التَّمَسُّكِ بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدِيْنِهِ

Rabbani adalah orang yang lengkap dalam ilmu, amal dan sangat erat berpegang dengan keta`atan kepada Allah dan agamaNya”.  (al-Syaukani: 4/135)

Untuk itu para ulama memberikan gambaran-gambaran umum tentang karakter pendidik orang dewasa ini dari dua sudut pandang tersebut, yaitu:

1. Segi ilmiyyah seorang pendidik harus memberikan dasar-dasar pembelajaran antara lain:

a. Memberikan perhatian tentang kebenaran sumber (صِحَّةُ الْمَصَادِرِ)

b. Memberikan penekanan tentang kebenaran faham (صِحَّةُ فَهْمِ النُّصُوْصِ)

c. Menanamkan sikap penghormatan terhadap ajaran-ajaran Islam (تَعْظِيْمُ النُّصُوْصِ)

2. Segi hikmah kebijaksanaan. Seorang pendidik harus memiliki antara lain:

a. Kebijaksanaan teoritis yaitu mengetahui kebenaran yang hakiki.

b. Kebijaksanaan praktis yaitu Memberikan segala sesuatu sesuai dengan haknya, mengerti tentang keadilan kauni dan syar`i Alloh swt, dan adanya bashiroh (ketajaman jiwa) tentang materi pembelajaran, peserta didik dan cara atau metode dan tehnik mengajar.

B. Pendidik adalah Ulil amri

Menata peserta didik dengan syari`ah.

Al-Qurthubi memberikan gambaran tentang Robbani:

الَّذِي يَجْمَعُ إِلَى الْعِلْمِ الْبَصَرَ بِالسِّيَاسَةِ ... قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ: سَمِعْتُ عَالِمًا يَقُوْلُ: اَلرَّبَّانِي: اَلْعَالِمُ يِالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ وَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ اَلْعَارِفُ بِأَنْبَاءِ الأُمَّةِ وَمَاكَانَ وَمَا يَكُوْنُ

“Orang yang terhimpun dalam dirinya ilmu dan pandangan siyasah (seni kepemimpinan dan pengayoman)…

Abu `Ubaidah berkata: aku mendengar seorang ali berkata : Robbani adalah orang yang alim tentang halal dan haram, perintah dan larangan serta mengerti tentang kondisi umatnya, baik yang telah berlalu, maupun yang sedang terjadi”. (Tafsir al-Qurthubi: 4/122)

Kualitas berikutnya adalah kualitas kepemimpinan. Seorang pendidik dituntut mampu menjadi pengayom bagi peserta didiknya. Ia harus tampil sebagai inspirator, motivator sekaligus dinamisator kehidupan agama.

Seorang pendidik bukan intelek yang sekedar berkutat dengan pengkajian dan aktivitas akademis belaka. Seorang pendidik yang dinanti-nanti peserta didiknya adalah pendidik yang dengan penuh kasih mengulurkan tangannya kepada peserta didiknya. Dia menuntun umat menuju kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Pendidik dengan kualitas kepemimpinan ini adalah seorang yang mengakar di dalam jiwa para peserta didiknya. Ia hidup dan berbaur dengan persoalan mereka. Hal ini berarti pula bahwa pendidik dengan kualitas kepemimpinan bukan elit agama yang justru menjadi alat kekuasaan. Yang bersuara hanya ketika kepentingan penguasa menghendakinya. Ia juga bukan sekadar corong bagi kepentingan kelompok tertentu. Sebaliknya, pendidik robbani adalah unsur perekat bagi seluruh komponen peserta didiknya. Pendidik yang keberpihakannya jelas tertuju kepada kepentingan seluruh peserta didiknya.

Dalam hal ini pendidik mempu mewujudkan peserta didiknya yang dewasa menjadi:

1. penegak agamanya, yang meliputi:

a. penjaga kemurniaan agamanya yang meliputi: penyebaran dan pendakwahannya, baik dengan tulisan, lisan maupun senjata. Menolak dan memerangi berbagai syubhat dan kebathilan.

b. Pewujud agamanya, yang meliputi: penegakan syari`ah dan hududnya serta pelaksana hokum-hukumnya. Mengajak peserta didik untuk mewujudkannya baik dengan targib maupun tarhib.

2. Menata kehidupan peserta didik yang meliputi:

a. Keadilan dan menghilangkan sikap kedzaliman terhadap para peserta didik

b. Merekatkan para peserta didik dan menghilangkan unsur-unsur perpecahan

c. Membina peserta didik untuk aktif dalam pembangunan bumi yang benar.

(Abdulloh al-Dumaiji: 335-336)

C. Pendidik adalah Muslihul Ummah

Tilawah, tazkiyah dan ta`lim.

Al-Qurthubi berkata :

يُدَبِّرُوْنَ أُمُوْرَ النَّاسِ وَيُصْلِحُوْنَهَا

Mereka adalah orang-orang yang menata dan mengislah urusan manusia”. (al-Qurthubi: 4/230)

Kriteria terakhir pendidik rabbani adalah aktivitas perbaikan dan pengentasan persoalan peserta didik. Pendidik rabbani adalah pewaris para nabi. Warisan nabi, dalam hal ini, bukan hanya ilmu. Tapi juga peran dan tanggung jawab. Ilmu dan peran serta tanggung jawab itulah yang diwarisi para pendidik.

Para nabi diutus oleh Allah SWT dengan misi perbaikan. Para nabi berperan di tengah umatnya sebagai pelita yang menerangi jalan umat menuju cita-cita luhur penciptaannya.
Pendidik Rabbani sebagai perawis para nabi dituntut mampu melakoni peran yang sama. Ia memikul tanggung jawab untuk berperan terhadap para peserta didik. Pendidik harus menjadi solusi terhadap pelbagai persoalan yang menghimpit peserta didiknya.

Untuk memainkan peran tersebut, pendidik dituntut aspiratif dan memiliki kepekaan. Kepekaan menangkap akar dari setiap permasalahan. Ia tidak terjebak pada sebatas mengenal fenomena masalah. Sehingga jalan keluar yang ditawarkannya tidak justru menimbulkan persoalan baru.

Pendidik rabbani juga responsif. Ia menawarkan solusi-solusi kreatif dan inovatif terhadap persoalan peserta didik. Untuk itu, ia tidak pasif. Apalagi berpangku tangan terhadap masalah-masalah peserta didik. Ia justru terjun ke tengah-tengah peserta didik. Ia larut dalam denyut nadi mereka. Kemudian, dengan kapasitas intelektual dan kepemimpinannya, ia tuntun mereka menuju kepada kehidupan yang lebih baik.

Sebagai Muslihul ummah, para pendidik harus dapat menerapkan pola-pola pembelajaran yang meliputi:

1. Tilawah, yang mencakup:

a. Membaca.

b. Mencontoh.

c. Bekerja

d. Menyampaikan

(Rasyidh al-Shubbahi: 436)

2. Tazkiyyah, yang mencakup:

a. Mensucikan jiwa

b. Memberdayakan jiwa

c. Meningkatkan jiwa.

(Abdul Aziz al-Abdul Lathif: 57)

3. Ta`lim, yang mencakup:

a. Mentransfer ilmu

b. Mentadabburi ilmu

c. meyakini ilmu.