| Orang-Orang Misterius |
|
Siapa orang-orang Misterius itu? Mereka orang-orang yang tahu di antara syarat di terimanya perbuatan ialah ikhlas karena Alloh subhanahu wa ta'ala. Ikhlas adalah mengahrapkan pahala Alloh subhanahu wa ta'ala di setiap perbuatan yang di kerjakan seseorang. Karena mereka tahu seperti itu, mereka teguh dalam merahasiakan seluruh amal peribadatan mereka, seluruh amal sholeh mereka, supaya perbuatan-perbuatan mereka di terima Alloh subhanahu wa ta'ala dan mereka terhindar dari bahaya riya' dan sum'ah. Mereka bersikap seperti itu juga karena tahu orang pertama dari tiga orang, yang neraka dinyalakan pada mereka di hari qiyamat adalah qori' (pembaca) Al-Qur'an, orang yang menginfakkan hartanya di hal-hal yang baik, dan berperang dijalan Alloh. Mereka bertiga di masukkan keneraka akibat tidak mengharapkan keridhoan Alloh subhanahu wa ta'ala di amal perbuatan yang mereka lakukan. Orang-orang misterius sangat merahsiakan amal perbuatan mereka, karena takut mendapatkan hukuman dari Alloh subhanahu wa ta'ala. Mereka mentarbiyah (membina) para pengikut mereka untuk menerapkan konsep ini. Imam Al-Jailani berkata kepada salah seorang muridnya: "Beramallah dengan ikhlas dan jangan lihat seluruh amal perbuatanmu. Amal perbuatanmu yang diterima adalah amal perbuatan yang engkau proyeksikan untuk mengharapkan keridhoan Alloh subhanahu wa ta'ala, bukan keridhoan manusia. Engkau celaka jika beramal untuk manusia, namun engkau berharap perbuatanmu diterima Alloh subhanahu wa ta'ala. Ini perbuatan gila". (Al-Fathu Ar-Robbani: 36)
Pakar tafsir sekaligus salah seorang generasi tabi'in, Abu Aliyah rohimahulloh berkata: "Shohabat-shohabat Muhammad sholallohu alaihi wa sallam berkata kepadaku, 'engkau jangan beramal karena selain Alloh subhanahu wa ta'ala. Jika itu engkau lakukan, Alloh subhanahu wa ta'ala menyerahkanmu kepada pihak tujuan amalmu". (Shifatu Ash-Shofwah: 3/212)
Pada hari qiyamat, orang yang riya' datang dengan membawa amal perbuatan sebesar gunung, lalu Alloh subhanahu wa ta'ala membuatnya menjadi buih yang bertaburan tak berguna. Ia melelahkan diri di dunia dan mendapatkan kelelahan lebih berat di akhirat. Karena itu "orang-orang misterius" berteriak dengan lantang di depan orang-orang yang tidak ikhlas: "Anda tidak usah melelahkan diri". Murid Al-Hasan Al-Basri, Malik bin Dinar rohimahulloh berkata: "Katakan kepada orang-orang yang tidak jujur, anda tidak usah melelahkan diri".
Orang-Orang Misterius Versi Ibnu Al-Jauzi Ibnu Al-Jauzi menjelaskan perbedaan antara "orang-orang misterius" dengan orang-orang non misterius: "Adakalanya orang khusu' dikatakan orang rajin ibadah, orang diam di juluki orang takut kepada Alloh, dan orang-orang yang benci dunia dianggap orang zuhud. Tanda-tanda orang ikhlas ialah kondisinya tidak berubah saat sendiri atau bersama orang lain. Terkadang ia memaksa menebar senyum dan kesenangan pada manusia, agar predikat orang zuhud hilang darinya. Ibnu Sirin rohimahulloh tertawa pada siang hari. Jika malam datang, ia seperti 'membunuh' semua penduduk desa. Mereka seperti itu. Manusia tidak masuk dalam perhitungan mereka dan mereka hanya gelisah oleh pandangan Alloh subhanahu wa ta'ala pada mereka. Orang yang mendambakan simpati manusia pasti kelelahan. Ibnu Al-Qoyyim rohimahulloh berkata: "Amal perbuatan paling baik ialah anda tidak memperlihatkannya kepada manusia, karena ikhlas dan juga dari pandangan anda sendiri sembari mengakui nikmat Alloh subhanahu wa ta'ala. Anda memandang anda sendiri dan manusia tidak punya peran di dalamnya". (Al-FAwaid: 76)
Contoh-Contoh Kerahsiaan Ibadah Orang-Orang Misterius. Salah seorang generasi Tabi'in, Ayyub As-Sakhtiyani, berkata: "Demi Alloh, jika seseorang jujur, ia lebih senang tidak tahu tempat darinya". (Shifatu Ash-Shofwah: 3/295) Tentang Ayyub As-Sakhtiyani, pakar hadits dan orang terpercaya, Hammad bin Zaid rohimahulloh berkata: "Kadang Ayyub menceritakan salah satu hadits, lalu ia terpengaruh olehnya. Ia menoleh dalam keadaan hidung beringus dan berkata: "Ah, pilek ini sungguh berat". Ayyub berlagak seperti pilek, untuk merahasiakan tangisnya, sebab berharap menjadi salah satu orang-orang yang dinaungi Alloh subhanahu wa ta'ala. Dibawah naungan-Nya saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Jika salah seorang dari generasi tabi'in tidak mampu berlagak sakit untuk merahasiakan air matanya, ia berdiri sebab khawatir air matanya di ketahui banyak orang. Itulah yang disebutkan Imam Al-Bashri. Ia berkata: "seseorang duduk disatu tempat. Jika air matanya keluar, ia menahannya. Jika ia khawatir air matanya tidak dapat dibendung, ia berdiri". (Az-Zhudu, Imam Ahmad: 262) Didorong semangat ingin masuk dalam jajaran "orang-orang misterius", salah seorang dari generasi Tabi'in menangis selama dua puluh tahun, tanpa dikehatui isterinya. (Shifatu Ash-Shofwah: 3/269) Itu seperti dikatakan salah seorang tabi'in, Muhammad bin Wasi' rohimahulloh. Ini tingkatan ikhlas amat tinggi dan adakah tingkat kerahsiaan melebihi ini? Isterinya, yang notabene orang terdekat dengannya, tidak tahu tangisnya saat bemunajat kepada Alloh subhanahu wa ta'ala pada malam hari selama dua puluh tahun, karena takut riya'.
Di biografi Al-Mawardi disebutkan, tidak ada satu pun karya-karyanya yang muncul selama hidupnya. Semua karyanya ia simpan di salah satu tempat. Ketika hendak meninggal dunia, ia berkata kepada orang kepercayaannya: "Buku-buku ditempat ini (sembari menunjukkan tempat yang dimaksud) adalah karyaku. Jika aku berada di detik-detik kematianku, letakkan tanganmu di tanganku. Jika tanganku berhasil memegang tanganmu, ketahuilah itu berarti tidak ada satupun bukuku yang diterima Alloh subhanahu wa ta'ala. Untuk itu pergilah ketempat yang aku maksud, ambilah bukuku didalamnya, lau buanglah kesungai Dajlah pada malam hari. Tapi, jika aku membentangkan tanganku dan aku tidak bisa memegang tanganmu, ketahuilah itu pertanda buku-bukuku diterima Alloh subhanahu wa ta'ala dan aku berhasil mendapatkan apa yang aku harapkan, yaitu ikhlas". Orang keprcayaan Al-Mawardi berkata: "Ketika Al-Mawardi hendak meninggal dunia, aku letakkan tanganku di tangannya. Ternyata dia membentangkan tangannya dan tidak dapat memegang tanganku. Aku pun tahu itu pertanda buku-bukunya diterima Alloh subhanahu wa ta'ala. Setelah itu, aku menyebarkan buku-bukunya". (Wafiyyatu Al-A'yyan: 3/282) Al-Mawardi menghabiskan umurnya untuk menulis buku, ia tidak tidur, hingga beberapa malam dan mengaharamkan dirinya tidur. Setelah itu, ia ingin buku-bukunya di buang di sungai Dajlah, karena kekhawatirannya terkena riya'? Sebelum Al-Mawardi, Imam Safi'i rohimahulloh berkata: "Aku ingin manusia mempelajari ilmu ini tanpa menisbatkan sedikitpun kepadaku, agar aku mendapat pahala dan mereka tidak memujiku". (Al-Bidayah wa An-Nihayah: 5/253) Imam Syafi'i yakin pujian manusia kepadanya itu mengurangi pahalanya dan membuat predikat "orang misterius" pada dirinya tidak lengkap. |



