Download Kitab

Konsultasi Online

Ust. Saefurrahim, LC
 

Admin

Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
BIARAWAN-BIARAWAN DI MALAM HARI

Generasi pertama Islam mendapatkan julukan "pendekar-pendekar disiang hari dan biarawan-biarawan dimalam hari". Mereka bersihkan jiwa mereka, lalu jiwa mereka mudah dikendalikan. Hasilnya, mereka menjadi raja jiwa mereka sendiri dan tidak menjadi budak jiwa mereka yang mengarahkan mereka semuanya. Mereka tidak termasuk dalam cakupan orang-orang yang jiwanya menyuruh kepada kejahatan. Disebutkan di Al-Qur'an.

"Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Robbku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang". (QS. Yusuf: 53)

Mereka mengkondisikan jiwa mereka untuk mengerjakan amal-amal besar, hingga ibadah paling disukai jiwa mereka. Banyak dari mereka hanya menyukai dua hal dalam hidup ini, qiyamul lail dan puasa siang hari. Kendati qiyamul lail ibadah paling berat, namun menjadi kesibukan utama mereka dan mereka tidak menemukan kelezatan berdoa kecuali saat qiyamul lail. Salah seorang murid generasi pertama, Atho' bin Robah rohimahulloh, menjuluki qiyamul lail sebagai ibadah yang menghidupkan badan, menyinari hati, mencerahkan wajah, menguakan pandangan dan organ tubuh. Jika seseorang mengerjakan qiyamul lail, ia bahagia tiada tara esok paginya. Jika tidak melaksanakan qiyamul lail, ia sedih dan gundah gulana. Seperti ada sesuatu yang paling hilang dari dirinya dan sesuatu yang paling besar manfaatnya sirna darinya. (Al-Bidayah wa Nihayah: 9/ 294)

Maka tidak mengherankan kalau qiyamul lail, ibadah yang berat bagi jiwa manusia, itu dijadikan Alloh subhanahu wa ta'ala sebagai tarbiyah (pembinaan) yang harus dijalani Rosullulloh sholallohu alaihi wa sallam sebelum beliau diutus sebagai Nabi dan Rosul. Pada awal kemunculan dakwah, qiyamul lail hukumnya wajib bagi Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam dan para pengikut beliau. Generasi "perintis" tidak mungkin mampu mengemban tugas besar dakwah, jika basis dan "akarnya" tidak kokoh.

Muhammad bin Sirin rohimahulloh menyerukan qiyamul lail dijadikan bagian dari syarat seorang layak menjadi figur teladan. Ia berkata: "seseorang harus mengerjakan qiyamul lail, kendati sebentar".

Perindu-Perindu Malam.

Karena saking mencintai qiyamul lail, generasi pertama Islam sedih jika malam berlalu dan siang menjelang. Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata: "Jika malam datang, aku senang. Jika siang menjelang, aku sedih".

Tentang Sufyan Ats-Tsauri, Abu Yazid rohimahulloh berkata: "Pada Pagi hari, Sufyan menjulurkan kedua kakinya ketembok dan kepalanya ketanah, agar darahnya kembali ketempat semula, karena qiyamul lail yang ia kerjakan".

Bagaimana mereka tidak rindu malam hari, wong saat itu Alloh subhanahu wa ta'ala turun kelangit dunia, lalu perasaan dekat dengan-Nya kian bertambah dan kelezatan bermunajat kepada-Nya makin menguat? Bagaimana mereka tidak merindukan qiyamul lail, wong qiyamul lail satu jalan yang mengantarkan ke surga dengan aman. Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam bersabda:

"أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوْا السَّلَامَ وَ أَطْعِمُوْا الطَّعَامَ وَ صَلُّوْا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوْا الجَنَّةَ"

"Hai manusia, sebarkanlah salam diantara manusia, beri makan orang lain, dan sholatlah pada malam hari saat manusia sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan surga dengan aman". (HR. Tirmidzi dan dishohihkan Al-Arnauth).

Bagaimana  mereka tidak merindukan qiyamul lail, wong teladan dan kekasih mereka, Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam, melakukan qiyamul lail hingga kedua kaki beliau bengkak. (HR. Bukhori dan Muslim)

Mereka bersemangat meneladani Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam, sebab ingin dikumpulkan bersama beliau diakherat nanti.

Kaderisasi Antar Generasi

Generasi pertama Islam amat concern dengan ibadah qiyamul lail, hingga melakukan kaderisasi dalam hal ini antar generasi. Setiap ayah mengkader anak-anaknya untuk bias qiyamul lail. Diriwayatkan dari Muawiyah bin Quroh bahwa ayahnya berkata kepada anak-anaknya usai sholat Isya': "Anak-anakku, tidurlah sekarang! Semoga Alloh menganugerahkan kebaikan kepada kalian malam ini". (Az-Zuhdu, Imam Ahmad: 187)

Abu Huroiroh rodhiallohu anhu membagi malam dengan unik. Ia qiyamul lail pada sepertiga malam, lalu isterinya melakukan qiyamul lail pada sepertiga lainnya, dan terakhir anaknya mengerjakan qiyamul lail pada spertiga lainnya. Jika ada salah satu dari ketiganya tidur, maka ada yang mengerjakan qiyamul lail. (Az-Zuhdu, Imam Ahmad: 177)

Belenggu Dosa

Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh mengatagorikan orang yang tidak qiyamul lail sebagai orang miskin, sebab ia gagal mendapatkan banyak sekali kebaikan. Malam hari saat terindah bermunajat (berdoa) kepada Alloh subhanahu wa ta'ala, bukti kemenangan seseorang atas jiwanya, dan pesta kemenangan diri atas daya tarik "tanah". Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh  berkata: "Jika anda tidak qiyamul lail dan berpuasa  pada siang hari, ketahuilah anda orang miskin, terbelenggu oleh dosa dan kesalahan". (Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Al-Jauzi: 14)

Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh menganggap dosa dan kesalahan sebagai belenggu yang membuat seseorang gagal mengerjakan kebaikan. Harus ada taubat nasuhah dan istigfar serius, agar hati tergerak mengerjakan qiyamul lail. Seseorang datang kepada Al-Hasan Al-Bashri, lalu bertanya kepadanya: "Hai Abu Said, qiyamul lail membuatku kelelahan dan aku tidak sanggup lagi mengerjakannya". Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada orang itu: "Sudaraku, beristigfarlah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena siakpmu seperti itu pertanda jelek".

Al-Hasan Al-bashri berkata: "Jika seseorang mengerjakan dosa, ia tidak dapat mengerjakan qiyamul lail, gara-gara dosanya itu".

Siapa ingin namanya terukir dijajaran "biarawan-biarawan malam", maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menjauhkan diri dari dosa-dosa dan menang atas jiwanya.