| KERUGIAN TERLEWATNYA SHOLAT SHUBUH |
|
Suatu hari, Yahya Bin Mu'adz melihat seorang laki-laki memindahkan batu gunung di hari yang terik sambil bernyanyi-nyanyi. Maka ia berkata: "Malang sekali anak Adam ini, baginya memindahkan batu lebih ringan dari pada meninggalkan dosa". (Hilyatul Auliya': 10/ 52) Memang, demi Alloh, manusia menganggap dosa adalah sesuatu yang ringan, karena ia tidak mengetahui berbagai akibat dan dampaknya.
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Alloh kecuali sedikit sekali". (QS. An-Nisaa' [4]: 142) Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam bersabda: "لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِيْنَ مِنْ صَلَاةِ العِشَاءِ وَ الفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا" "Tiada sholat yang lebih berat bagi kaum munafiq dibanding sholat Isya' dan Fajar. Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya. Niscaya mereka akan mendatanginya, meski dengan merangkak". (HR. Bukhori: 657) Abdulloh bin Mas'ud rodhiallohu anhu, seorang shohabat mulia, menegaskan: "Aku telah melihat diri-diri kami, dan ternyata tidaklah meninggalkannya (sholat Shubuh) selain orang munafiq yang telah terbongkar kemunafikkannya". (Shohih Targhib wa Tarhib: 401) Sesorang itu masih dalam kebikan dan tidak dicurigai selagi ia rajin melaksanakan sholat Shubuh berjama'ah. Tapi, bila ia berani meninggalkannya, maka persangkaan tersebut akan berubah dan dia akan diragukan. Abdulloh bin Umar rodhiallohu anhuma berkata: "Dulu, bila kami tidak menemukan seseorang dalam sholat Shubuh dan Isya', maka kami berburuk sangka kepadanya". (Shohih Targhib wa Tarhib: 414)
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya". (QS. Al-Ma'un [107]: 4-5) Sa'ad bin Abi Waqoosh rodhiallohu anhu menjelaskan: "Mereka lalai mengerjakannya hingga waktunya habis". Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan". (QS. Maryam [19]: 59) Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh mengatakan: "Penyia-nyiaan sholat di sini bukan dengan meninggalkannya, akan tetapi mereka menyia-nyiakan waktu". Pasar keuntungan akan tetap buka sampai waktu terbit. Bila metahari telah muncul, maka pasar tutup dan barang-barang tidak berguna lagi. Yang lebih menakutkan lagi adalah ancaman penyimpangan dan kesesatan dari Dzat Yang Maha Kuat, Maha Perkasa lagi memiliki siksaan.
Dari Abdulloh bin Mas'ud rodhiallohu anhu, ia berkata: "Disebutkan dihadapan Nabi sholallohu alaihi wa sallam tentang seseorang yang tidur semalam suntuk sampai pagi. Beliau bersabda: "ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِيْ أُذُنَيْهِ، أَوْ قَالَ: فِيْ أُذُنَيْهِ" "Itu adalah orang yang dikencingi syaithon pada kedua teinganya". Atau bersabda: "Di telinganya". (HR. Bukhori: 3270 dan Muslim: 1853) Thibi menerangkan: "Telinga saja yang disebutkan, meskipun mata lebih memiliki kaitan erat dengan tidur, untuk menunjukkan begitu beratnya bangur tidur". (Fathul Bahri: 3/53) Mungkin ada orang yang heran dan bertanya-tanya: "Apakah syaithon juga kencing?" Qurthubi rohimahulloh memberi jawaban sebagai berikut: "Berita bahwa syaithon itu makan, minum, dan menikah telah terbukti keabshahannya. Jadi, tidak menutup kemungkinan ia juga kencing". (Fathul Bahri: 3/35) Hadits ini bila memberikan kesimpulan, maka kesimpulan tersebut tiada lain adalah bahwa syaithon telah menguasai dan meremehkan dirinya sehingga berani menjadikan telinganya sebagai toilet tempat bung air kencing untuk menghina dan memperolok-olokkannya. Wahai penjual waktu fajar dan penuai dosa, tidaklah anda merasa jijik pada kencing syaithon di kedua telinga? Tidaklah anda bersedih terhadap menjauhnya Malaikat karena bau tubuh anda?
Orang yang tidur dan tidak menunaikan sholat Shubuh bersama jama'ah, di pagi harinya ia berwatak busa, bila berjajar dengan orang yang buruk maka keburukannya meresap dalam dirinya dan memenuhinya. Ia tegak seperti kaca; bila menemui suatu ayat, maka hanya berlalu saja tanpa sedikitpun membekas dalam dirinya. Perasaannya bak batu, yakni cambuk-cambuk nasihat dipukulkan pada dirinya, namun ia sama sekali tidak merasa sakit. Lebih dari itu, seandainya kemalasan dan kelemahan itu besi, maka ia adalah sepotong magnet. Dan, seandainya pahalanya hanya seujung jari –akibat kemalasannya-, maka ia menyangkanya seluas padang sahara. Karenanya, Nabi sholallohu alaihi wa sallam memberitakan bahwa syaithon mengikat pada tengkuk salah seorang dari kita saat tidur sebanyak tiga ikatan yang tidak bisa terlepas kecuali dengan bangun, wudhu, dan sholat. Beliau sholallohu alaihi wa sallam bersabda: ... وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ" "… bila tidak, maka di pagi hari ia merasa gelisah dan malas". (HR. Bukhori: 3269 dan Muslim: 1855) Tidak ini saja, malah syaithon juga mengespos keburukannya dan mempublikasikan maksiatnya keseluruh penjuru. Mahkota kemuliaan dan kehormatan diturunkan dari kepalanya, kemudian diganti dengan cap kerendahan dan kehinaan. Abu Mu'tamir Sulaiman bin Thorhan At-Taimi rohimahulloh berkata: "Sesungguhnya seseorang itu berbuat dosa, lalu di pagi harinya ia membawa kerendahannya". (Shifatush Shofwah: 3/174)
Nabi sholallohu alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُبْحِ فَهُوَ فِيْ ذِمَّةِ اللهِ، فَانْظُرْ يَا ابْنَ آدَمَ، لَا يَطْلُبَنَّكُمْ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْئٍ، فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبُهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْئٍ يُدْرِكُهُ، ثُمَّ يَكُبُّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ" "Barangsiapa sholat shubuh, maka ia berada dalam lindungan Alloh. Untuk itu, perhatikanlah wahai ibnu Adam! Jangan sampai dia menuntut kalian karena sesuatu dari perlindungan-Nya. Karena, barangsiapa yang Dia dituntut karena suatu perlindungan-Nya, pasti dia mendapatkannya, kemudian menelungkupkan wajahnya ke dalam neraka jahannam". (lihat Shohih Targhib wa Tarhib: 363). Sholat Shubuh termasuk perlindungan Alloh. Alloh tidak ingin perlindungan tersebut dilanggar. Barangsiapa yang tidur atau menunda-nunda waktunya, berarti ia telah melanggar perlindungan Alloh, sewenang-wenang kepad Dzat Yang Maha Agung dan memancing kemurkaan Dzat Yang Maha Mulia. Maka, Alloh akan menghukum orang tersebut denngan menelungkupkan wajahnya yang selalu ditutupi tidur ketika di dunia ke dalam neraka pada hari qiyamat, sebagai balasan setimpal atas tindakan yang telah ia lakukan. Dia tidak mendzoliminya, pun tidak bertindak lalim kepadanya. Mustahil Alloh subhanahu wa ta'ala melakukan hal itu.
Hal ini berdasrkan riwayat Bukhori bahwa Nabi sholallohu alaihi wa sallam, dalam satu mimpi pernah melihat: "Seseorang yang berbaring terlentang, sedangkan ada orang lain yang berdiri diatasnya membawa batu yang ia pukulkan ke kepalanya (orang yang terlentang). Sehingga, kepala orang itu pecah dan batu menggelinding. Apabila orang yang berdiri itu pergi untuk mengambil batu tersebut, ia tidak kembali sebelum kepala itu kembali seperti sedia kala. Kemudian ia memukul kepada tersebut seperti yang ia lakukan di kali pertama". Jibril dan Mikail telah menjelaskan apa yang dilihat Nabi sholallohu alaihi wa sallam tersebut bahwa ia adalah, seoarang yang memperlajari Al-Qur'an, kemudian menolaknya dan tidur dari sholat wajib". Ibnu A'robi rohimahulloh berkata: "Hukuman dikenakan di kepala orang yang tidur dari sholat, karena tidur berpusat di kepala". (Fath Bari)
Ibnu Qoyyim rohimahulloh, dalam kitab Zadul Ma'ad berkata: "Tidur diwaktu Shubuh menahan rezeki. Karena, di waktu tersebut para makhluk mencari rezeki mereka sendiri-sendiri. Dan, waktu tersebut merupakan waktu pembagian rezeki. Sehingga, tidur diwaktu ini haram, kecuali satu hal atau keperluan. Pula sangat tidak baik. Ibnu Abbas rodhiallohu anhu pernah memergoki seorang putranya tidur di waktu Shubuh, maka ia berkata: "Bangun, apakah engkau mau tidur di waktu rezeki dibagi?". (Zadul Ma'ad: 4/242) |



